Nikah mut’ah

Nikah mut’ah disebut juga dengan nikah Mu’aqad. Dalam konteks ini umat islam berbeda pendapat. Mayoritas kaum Sunni menyatakan nikah Mut’ah haram sedangkan mayoritas kaum Syi’ah menghalalkan nikah Mut’ah itu.

Menurut para ulama Syiah, nikah Mut’ah diperbolehkan pada masa nabi Muhammad Saw. Tradisi nikah Mut’ah terus berlangsung pada pemerintahan Abu Bakar dan pada saat Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan beliau dengan serta merta mengharamkan nikah Mut’ah itu. Pernyataan mereka ini berdasarkan buku-buku Syi’ah dan sebagian buku-buku Sunnah.

Sedangkan menurut para ulama Sunni, nikah Mut’ah merupakan tradisi kaum Jahiliyah. Masyarakat masih memperaktekkan tradisi itu pada tahun-tahun pertama masa kenabian (Muhammad), hingga pada hari Khaibar dan pada saat berlangsungnya haji Wada’ nabi Muhammad melarang dengan tegas nikah Mut’ah. Jadi nikah Mut’ah ini sama persis kedudukannya seperti minum Khamar. Pada tahun-tahun pertama kenabian minum khamar masih diperbolehkan, lantas kemudian diharamkan.

Saya pernah baca buku yang saya pinjam dari teman saya yang berjudul As- Syi’ah wa At Tashiih yang ditulis oleh orang Syi’ah sendiri yang bernama Dr. Musa Al Musawi. Dalam buku itu disebutkan tentang perbedaan nikah Mut’ah dengan nikah yang sudah dikenal oleh khalayak ramai orang-orang Sunni. Secara global ia mengatakan hal berikut:

Nikah dan Syaratnya menurut Sunni :

1. Nikah berlangsung antara kedua pasangan dengan akad nikah di hadapan dua saksi.

2. Suami wajib memberi nafkah kepada istri selama akad nikah mereka masih berlaku.

3. tidak boleh laki-laki menikah lebih dari 4 orang dengan kata lain suami hanya boleh punya 4 istri saja, itu pun dengan persyaratan yang sangat ketat.

4. Restu dari orang tua merupakan syarat bagi wanita muda yang belum pernah menikah sebelumnya.

5. masa berlakunya pernikahan tersebut selama jasad masih dikandung badan (selama hidup)

Syarat Talak menurut Sunni :

1. Talak terjadi dengan dihadiri dua saksi dan dengan mengucappkan kata talak.

2. Iddah talak bagi wanita adalah tiga bulan dan sepuluh hari.

3. talak tidak terjadi jika wanita dalam keadaan Qur’i

4. wajib bagi suami memberi nafkah istri yang ditalaknya selama masa Iddah.

Nikah Mut’ah dan syaratnya menurut Syi’ah :

1. pernikahan dapat berlangsung dengan akad nikah saja tanpa adanya saksi.

2. saat pernikahan itu berlangsung, suami wajib memberi nafkah istrinya.

3. seorang laki-laki boleh menikah dalam jumlah banyak.

4. restu ayah bukan syarat dalam pernikahan.

5. istri tidak mewarisi suami ketika meninggal.

6. jenjang waktu pernikahan Mut’ah ini sesuai kesepakatan antara suami dan istri, selama kedua-duanya setuju. Jadi bisa saja nikahnya hanya 15 menit, atau satu jam atau satu hari atau empat bulan atau 7 tahun dan seterusnya. Yang terpenting adanya kesepakatan tanpa ada pemaksaan sedikit pun.

Syarat talak menurut Syi’ah.

1. talak terjadi tanpa ada saksi. Terjadinya talak baik dengan perkataan talak atau dengan berakhirnya waktu pernikahan sesuai kesepakatan dalam akad nikah.

2. talak dapat terjadi setiap saat.

Sebenarnya banyak ulama-ulama Syi’ah yang tidak setuju dengan nikah Mut’ah ini. Begitupun halnya dengan sebagian ulama Sunni yang menyetujui nikah Mut’ah dan memperbolehkannya, salah satu contoh misalnya Jamal Al Banna.

Bagi teman2 yg suka bergumul dalam pemikiran islam liberal tentu tidak asing dengan adik kandung Hasan Al Banna pendiri Ihwan Al Muslimin itu. Saya pernah hadir dalam acara bedah buku Jamal Al Banna, ketika itu jamal Al Banna membolehkan nikah Mut’ah bagi umat Islam yang berada di Barat. Mengapa beliau setuju dengan nikah Mut’ah?

Saya tidak bisa menyebutkan secara terperinci alasan beliau di sini, tapi secara global beliau membplehkan nikah mut’ah karena untuk mempermudah orang-orang Eropa memeluk agama Islam. Beliau beranggapan bahwa kehidupan di dunia Barat sama dengan kehidupan pada jaman jahiliyah dulu. Hal itu dilakukan untuk meringankan beban mereka ketika baru memeluk agama Islam. Bukankah Allah juga melakukan hal yang sama? Ketika islam baru dikenal oleh penduduk mekah tidak semua tradisi yang sudah lama terjadi di masyarakat jahiliyah langsung dihapus secara radikal. Tetapi penghapusan tradisi buruk itu melalui proses, step by step. Nikah Mut’ah yang seringterjadi tidak langsung diharamkan. Minum khamar tidak langsung dilarang!! Tapi semua melalui proses, setelah iman mereka (umat Islam yang baru memeluk islam) sudah kuat, setelah itu baru minum kahamr dan nikah mut’ah dilarang!!! Saya rasa itu lah yang dapat saya tangkap dalam pemikiran Jamal Al banna ketika acara bedah buku tersebut.

Oh ya untuk lebih jelasnya baca aja buku jamal Al banna yang berjudul : istirotijiah ad Dakwah Al Islamiyah fi Al Qorni 21. cetakan dar fikr al islami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s