ABORSI ANTARA WAJIB ATAU HARAM

ABORSI ANTARA WAJIB ATAU HARAM;

(Sebuah Upaya Mengkaji Ulang Hukum Aborsi Apabila Ada Hal yang Menuntut untuk Melakukannya)

Oleh: Mokhammad Syukron at-Toha

Alangkah bahagianya seseorang ketika mendapatkan rizki yang begitu besar dari Tuhannya. apalagi rizki itu adalah seorang anak soleh ataupu solehah. Tentu sebagai seorang hamba Allah S.w.t yang selalu taat akan merasa beryukur sekali dan akan melakukan apa saja demi menunjukkan rasa syukurnya kepada Tuhannya. Namun kadang sebagian dari kita malah menyia-nyiakan hal itu. Seakan-akan tidak menyadari bahwa anak adalah sebuah nikmat besar yang diberikan untuk kita. Dan seolah-olah anak adalah sumber kemiskian ataupun sumber malapetaka yang berakhir pada klinik yang illegal. Padahal Allah S.w.t telah berfirman bahwa;

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka”.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”.

Begitupula sabda Nabi S.a.w ketika ada seorang sahabat bertanya kepada beliau disela-sela penjelasannya pada ayat فلا تجعلوا للله أندادا وأنتم تعلمون tentang dosa besar. Kemudian beliau menjawab “jika kamu membunuh anakmu karena kamu takut dia akan mengambil jatah makanmu”.

Sungguh ironis sekali jika hal itu terjadi pada umat islam yang notabene memahami betul hukum-hukum islam. Ya Mungkin tidak semua ummat islam dapat memahami secara dalam tentang hukum-hukum islam, namun setidaknya selalu termotifasi dari ketidak tahuannya untuk selalu belajar dan belajar mencari kebenaran hakiki agar bisa menuju insan kamil. Menyikapi masalah aborsi, penulis ingin mengulas sedikit tentang kemungkinan-kemungkinan orang melakukan aborsi yaitu seperti orang melakukan aborsi karena dihimpit ekonomi dan ini sangatlah dikecam oleh islam, atau orang melakukan aborsi hanya ingin lari dari masalah seperti hamil diluar nikah agar aibnya tidak ketahuan orang maka diputuskan aborsi dan hal inipun dilarang oleh islam, atau seseorang ingin melakukan aborsi karena janin membahayakan nyawa sang ibu dan ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama baik sebelum ditiupnya ruh ataupun esudah ditiupnya ruh, dan adapula seseorang melakukan aborsi karena hal yang tidak diinginkan tejadi yaitu seorang gadis yang taat beragama, ahli ibadah, solehah diperkosa oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Nah dari berbagai masalah diatas tentu islam harus menjawabnya dengan tegas dan tentu dengan toleransi yang tinggi tidak asal bicara lantang bahwa aborsi itu haram hukumnya. Ok lah memang aborsi hukumnya haram namun kita juga tau bahwa islam adalah agama yang toleran, agama yang mempermudah pemeluknya bukan agama yang sadis atau agama yang menyusahkan pemeluknya. Seharusnya islam melindungi pemeluknya dari segi kemanusiaanya. Coba kalau kita lantang bahwa aborsi haram tanpa melihat alasan yang real kenapa melakukan aborsi? lalu apa artinya islam datang sebagai rahmatal lil alamin?. Aborsi ketika janin membahayakan nyawa sang ibu Dalam masalaha ini di kalangan ulama ahli fiqh terjadi perbedaan pendapat diantaranya;

1. Sebagian ulama berpendapat bahwa melakukan aborsi disaat janin membahayakan nyawa sang ibu hukumnya adalah haram ketika janin sudah ada nyawanya. Golongan ulama ini adalah sebagian besar dari madzhab imam Abu Hanifah. Mereka berpegangan pada beberapa dalil diantaranya:

a). kematian seorang ibu dikarenakan adanya janin adalah sebuah resiko dan janin dalam keadaan udah ada ruhnya. Dan membunuh janin dikarenakan masalah itu tidak diperbolehkan.

b). mereka berdua adalah manusia yang hidup, dalam syariat islam tidak ada nash yang menganjurkan menolong nyawa seseorang dengan mengorbankan nyawa manusia lainnya.

2. Kemudian sebagian dari mereka berpendapat bahwa ketika dalam keadaan seperti ini aborsi adalah suatu keharusan seperti yang dinyatakan oleh Syeikh al-Azhar terdahulu Syeikh Mahmoud Saltut “jika memang keadaan demikian terjadi dimana keberadaan janin mengancam nyawa sang ibu, maka islam menganjurkan untuk memilih mana yang mahdorotnya lebih ringan diantara kedua mahdorot. Dan dalam hal ini tidak ada jalan kecuali menyelamatkan nyawa seorang ibu, karena ibu adalah asal dari sang janin dan seorang ibu adalah tali penhubung kehidupan dan tumpuan hidup, oleh karena itu sang ibu punya hak kewajiban. Sangat tidak masuk akal jika mengalahkan sang ibu demi menyelamatkan sang janin”. Mereka merujuk terhadap beberapa dalil diantaranya:

a). Kaidah syar’iyah yang universal, seperti kaidah irtikabu akhafu ad-darurain ‘inda ijtima’iha, irtikabu akhafu al-mufsidain ‘inda ijtima’iha, takdimul ‘udzma al-maslahatain ‘inda ijtima’iha, dan ad-daruraat tubikhu al-makhdurat. Dari beberapa kaidah diatas, mereka mengungkapkan bahwa:

1). seorang ibu adalah al-aaslu dan adanya janin adalah dari sang ibu maka menyelamatkan sang ibu adalah yang paling diutamakan.

2). Seorang ibu adalah tali penhubung kehidupan dan tumpuan hidup, oleh karena itu sang ibu punya hak kewajiban. Sangat tidak masuk akal jika mengalahkan sang ibu demi menyelamatkan sang janin. Dan seorang ibu juga adalah eorang istri, tentunya sangat dibutuhkan oleh sang suami dan kematiannya menyebabkan susah tiada penghujung bagi seorang suami.

3).Hidupnya sang ibu adalah sudah barang tentu, sedangkan janin masih menyisakan tanda Tanya.

4).Menggugurkan janin adalah maslahah syar’iyah atau menghapus reiko yang lebih tinggi.

5).Seorang ibu lebih sedikit resikonya dibandingkan dengan si janin.

6).Dikiaskan dengan masalah iltiras atau kata lain pelindung.

7).Mendahulukan eksekusi aborsi janin yang menyebabkan timbulnya rasa takut yang dahsyat pada diri seorang ibu akan nyawanya.

b). Walaupun tidak ada nash syariah yang membolehkan aborsi ketika kandungan membahayakan sang ibu namun ada sabda nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas ra. yang berbunyi “ orang tua itu tidak dapat diukur dengan anaknya”. Hadits ini mengindikasikan bahwa betapa besar kedudukannya orangtua dibandingkan anaknya. Kenapa bisa demikian?. Karena orang tua adalah sebab atau wasilah adanya anak dan anak bukan sebab tidak adanya orangtua.

Aborsi janin Hasil berzina

Melihat masalah ini penulis agak mengerutkan dahi, kenapa aborsi janin hasil berzina masuk atau dibahas dalam masalah ini?toh dilihat dari segi berzina saja sudah jelas perbuatan tercela dan harus dihukum ranjam bagi pelakunya jika ia udah berkeluarga sedangkan bagi yang masih perjaka harus dicambuk seratus kali serta diasingkan selama setahun. Menurut hemat penulis dimasukkannya masalahan ini adalah sebagai penjelas saja dimana disana ada perbedaan pendapat diantara ulama ahli fiqh baik dari segi perbedaan hokum ataupun dalam segi jalur pengambilan hukum yang berbeda tapi satu hukum.

1. Pendapat ulama salaf dalam masalah ini diantaranya dari kalangan Malikiyah Sebagaimana apa yang dikatakan oleh al-Khurasi bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang wanita menggugurkan kandungannya, begitupula suaminya walaupun umur kandungan belum beranjak 40 hari. Dan dikatakan pula makruh hukumnya bila umur janin belum beranjak 40 hari dengan seizin suami. Namun beliau menambahkan apa yang dikatakan Abi al-Hasan bahwa hal itu boleh dilakukan sebelum 40 hari. Al-Adawi menambahkan apa yang dikatakan al-Khurasi bahwa tidak boleh menggugurkan janin apalagi sudah ditupnya ruh. Kemudian dari kalangan Syafiiyah.

Para ulama Syafiiyah sepakat bahwa menggugurkan janin hasil zina setelah ditiupnya ruh adalah haram. Adapun sebelum ditupnya ruh, pendapat yang paling rajih adalah boleh-boleh saja. Dari apa yang telah diungkapkan ulama salaf tentang dibolehkannya menggugurkan kandungan hasil zina sebelum ditiupnya ruh mungkin dikarenakan akan menimbulkan aib bagi sang wanita, keluarganya, dan orang-orang disekitarnya.

2. Sebagian pendapat ulama kontemporer seperti Dr. Abdul Fatkh idris, Dr. Muhammad said al-Buuthy menyatakan bahwa haram hukumnya menggugurkan janin hasil berzina baik sebelum ataupun sesudah ditiupnya ruh. Hal itu dikarenakan dengan beberapa dalil diantaranya:

a. para ulama seluruhnya menggunakan kata al-Haml dalam hukum aborsi itu mengarah pada al-Haml dari pernikahan yang sah. Maka mereka yang membolehkan melakukan aborsi itu masih dalam keadaan tertentu yaitu al-Haml hasil dari pernikahan yang sah. Sedangkan al-Haml hasil zina adalah haram melakukan aborsi.

b. Ketika mengandung hasil zina dan ingin menggurkannya adalah sebuah penyelesaian masalah yang telah diperbuat. Dan perbuatan itu melanggar syariat islam. Semua itu dilakukan demi menghilangkan jejak perbuatannya dan orang disekitarnya tidak pernah tahu.

c. Kisah seorang wanita al-Ghamidiyah yang mengadu ke Nabi Muhammad S.a.w bahwa dirinya telah melakukan zina dan ingin disucikan namun Nabi mengusirnya. Keesokan harinya datang lagi dengan memohon jangan mengusirnya serta mensucikannya. Kemudian Nabi bersabda “pergilah sampai kamu melahirkan”.

Melihat dari pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa aborsi janin hasil berzina adalah haram lalu bagaimanakah hukumnya aborsi janin hasil pemerkosaan?. Para ahli fiqh kontemporer menyatakan diperbolehkannya aborsi bagi seorang gadis korban pemerkosaan seperti pernyataan Dr.Muhammad sa’id al Buuty: “bagi gadis korban pemerkosaan mempunyai hak untuk melakukan aborsi selagi janin belum ada ruhnya”. Begitu juga halnya Syeikh al-Azhar Syeikh Muhammad sayyid Tontowy menyatakan: “sah sah saja melakukan aborsi pada bulan-bulan pertama bagi gadis korban pemerkosaan, itu semua demi menjaga ketidak jelasan keturunan”.

Aborsi janin cacat

Kadang kita sempat berfikir bermacam-macam tatkala kita tahu dari hasil medis yang menyatakan bahwa anak kita akan lahir cacat, bagaimana nanti ketika anakku lahir dalam keadaan cacat?mampukah dia menghadapi semua ini?atau betapa sedihnya mempunyai anak yang cacat dan lain sebagainya. pikiran-pikiran itu yang kadang bisa membutakan hati kita dari hikmah diberikannya kita anak yang cacat oleh Allah SWT sehingga kadang kita berfikir sempit yang berujung ingin melakukan aborsi. mungkin bagi yang pernah merasakan hal itu ada angin segar bahwa ada ulama yang memperbolehkan aborsi bagi janin yang cacat namun tidak serta merta mebolehkan begitu saja. Tentu dengan berbagai pertimbangan yang memungkinkan melakukan aborsi. Tapi itu hanya sebagian kecil ulama yang membolehkan. Sedangkan jumhur ulama menyatakan haram melakukan aborsi bagi janin yang cacat. dari perbedaan pendapat itu, penulis akan sedikit memberi penjelasan tentang ikhtilaf ulama dalam masalah ini.

1. Golongan yang membolehkan melakukan aborsi. Seperti yang difatwakan oleh Syeikh al-Azhar Syeikh Jaad al-Haq ketika menjawab sebuah pertanyaan dari riset kedokteran tentang cacat keturunan. Beliau membolehan hal itu dengan berbagai pertimbangan diantaranya; yang pertama bahaya cacat keturunan , yang kedua bahwa cacat keturunan ini masuk kategori penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan bisa beralih terhadap anaknya. Terkecuali cacat seperti buta, tangan tidak satu, dan semacamnya. Cacat semacam ini tidak termasuk dalam kategori dibolehkannya aborsi.

2. Golongan yang mengharamkan aborsi . Seperti dr. Muhammad Ramadan al-Buwaithy menyatakan bahwa hal semacam itu tidak termasuk kategori darurat al-syar’iyah. Karena yang namanya penyakit, kekurangan atau tambahan pada tubuh adalah ciptaan Allah S.w.t yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Melihat dari beberapa pendapat diatas tentang aborsi yang asalnya haram ternyata bisa menjadi boleh dengan melihat keadaan. Hal itu menandakan bahwa agama islam ini memang sangat toleran dan benar-benar mengayomi pemeluknya. Namun itu bukan berarti kita bias seenaknya saja melakukan aborsi dengan alasan ada sebagian ulama yang membolehkannya. Apalagi merekayasa alaan agar dapat mengamini tindakan tersebut. Perlu digaris bawahi bahwa para ulama yang membolehkan aborsi, pertama: mereka membolehkan ketika si janin belum ada ruhnya. Dengan kata lain ketika dilakukan aborsi berarti tidak bisa dikatakan membunuh manusia. Karena membunuh adalah menghilangkan nyawa. Kemudian harus ada alas an yang mana tidak dapat dihindarkan seperti janin akan mengancam nyawa sang ibu dan lain sebagainya. Kedua: mereka sepakat bahwa melakukan aborsi ketika si janin sudah ada ruhnya hukumnya haram.

Namun yang masih disayangkan penulis kenapa sampai hari ini di Indonesia masih dilarang melakukan aborsi? jika kita melihat keterangan diatas seharusnya larangan itu berlaku untuk aborsi yang memang benar-benar dilarang agama sedangkan apa yang diperbolehkan tentu kita tidak menghalanginya karena itu semua demi kemaslahatan bersama.

Wallohu a’lam bissawab

referensi:

1. Al-An’aam: 151

2. Al-Israa: 31

3. Fatkh al-Baari Juz: 8 Hal.13

4. Qadaya Mfiqhiyah Muasirah hal.125

5. Sunan Tirmidzi Juz 1 hal.68

6. Hadist panjang dalam Shahih Muslim dengan syarah nawawi Juz 11 hal. 201

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s