Tafsir alternatif tentang syirik dan kufur

Tafsir alternatif tentang syirik dan kufur

Kedatangan islam ke negeri arab, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengumandangkan syiar toleransi dan saling memahami antar sesama dalam rangka menghadapi serangan kebencian dan dendam. Negeri arab saat itu di bangun dengan pondasi islam sehigga menjadi negeri yang penuh dengan rahmat setelah runtuhnya dinasti jahiliah yang begitu berkeinginan untuk menguasai semenanjung sahara tersebut. Maka tatkala asma ALLAH terlekat indah di pendopo masuk negeri tersebut, para penduduk pun berduyun-duyun menunaikan shalat fajar di bawah tiang-tiang masjid bermarmer yang disanalah terlantun tasbih dan doa laksana tetumbuhan hijau yang memberikan kesejukan.

Setelah sekian lama islam muncul di muka bumi ini, lantas apa yang kemudian kita dapatkan dari sisi keimanan? Kenapa, ‘kekeringan jiwa’ masih saja kita rasakan walaupun warisan-warisan agama masih melimpah ruwah terwariskan kepada kita? Mengapa kita terus sibuk dengan ‘topeng’ sementara spirit kita terus merapuh?.

Akhir-akhir ini kita dapati semakin hari semakin banyak saja orang yang mempunyai hobi mengkafirkan orang lain serta mensyirikanya. Dengan mudahnya tuduhan tuduhan kafir dan bid’ah terlontar menghantam segala hal yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka. Dengan lancang mereka mengatakan bahwa segala yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah sesat sedangkan yang sesat tiada balasan apapun kecuali neraka yang abadi. Tidakkah kita ingat perkataan sang penyair arab yang mengatakan:

Janganlah nafsu itu mencela atas dasar prasangka

maka tebarlah kebaikan dengan keyakinan

Sesungguhya kekayaan para pejalan adalah sama

Antara dulu sekarang dan selamanya.

Satu solusi yang mungkin bisa kita andalkan untuk mengentaskan problematika pengkafiran ini, yaitu dengan mencari sebuah pengertian umum yang disepakati bersama sebagaimana petuah bijak arab mengatakan “lau ta’arafna lataallafna-kalau kita bisa satu pengertian maka terbentuklah kasih sayang dan toleran-“. Ya! Pengertian adalah kesepakatan yang terbentuk atas dasar pengetahuan, dari kesepakatan itu pula kita bisa mencari sebuah hokum sebuah masalah. Contoh adalah khamar, sangat sulit bagi kita untuk memberikan hukum terhadap minuman terlarang itu ketika belum ada kesepakatan tentang pengertian khamar, demikian juga halnya dengan syirik, sangat mustahil bagi kita memvonis seseorang sebagai musyrik, kecuali kita tahu apa itu pengertian syirik.

banyak kita baca pendapat ulama tentang pengertian syirik, namun kesemuanya itu sungguh sangat sulit untuk bisa kita cerna, bahkan tidak sedikit dari pengertian-pengertian tersebut yang memang sangat memeras otak dalam memahaminya. Beranjak dari hal itu, tidak ada salahnya kalau kita mencari sebuah tafsir alternatif tentang syirik. Syirik adalah mempersandingkan Allah dengan yang selainNya dalam sesuatu yang tidak layak kecuali bagi Dia. Dalam hal ini syirik bukan berarti menyandingkan sesuatu dengan ALLAH SWT secara mutlak, karena Allah sendiri telah membri izin kepada orang-orang tertentu untuk berbuat yang semestinya adalah pekerjaan Dzat YME, semisal sayyiduna Isa as yang di beri izin menghidupkan mayat. Sehingga titik tekan kita pada ta’rif ini terdapat dalam kalimat ‘sesuatu yang tidak layak kecuali bagi Dia’. Lantas kita pun berfikir apa sih sesuatu yang tidak layak kecuali bagi Dia dan tiada seorang hamba pun yang bisa mendapat izin tersebut? Sesuatu yang tidak layak bagi Allah adalah ‘uluhiyah atau dimensi ketuhanan’, dan dimensi ketuhanan ini mempunyai muqtadlayat (prasyarat mutlak yang harus dipenuhi). Artinya ketika ada seseorang yang mengklaim dirinya adalah Tuhan, maka kita pun berhak untuk menanyakanya. Misalnya, apa yang bisa menjadi petanda bahwa kamu itu Tuhan? Dia kan menjawab misalnya, karena saya karim (mulia) dan Allah juga karim. Atau karena saya ‘alim dan Allah juga ‘alim. Hal itu bisa kita jawab misalnya dengan pertanyaan ‘sejak kapan engkau mempunyai sifat tersebut?’ dia pun akan menjawab ‘sejak aku dilahirkan’. Kita Tanya lagi ‘secara sederhana berarti anda dilahirkan sedangkan Allah sama sekali terlahir’. Dari sini kita bisa menggaris bawahi bahwa sifat Tuhan harus mengandung sabaqiyah ( Yang Maha Dahulu). Dengan demikian muqtadlayat uluhiyah(prasyarat mutlak yang harus dipenuhi) pertama adalah al-sabaq.

Kalau pertanyaan pertama yang kita ajukan adalah sejak kapan, maka pertanyaan selanjutnya yang berhak kita ajukan adalah apa batasannya, maksudnya apa batasan kemulian, kealiman yang engkau sangkakan, terbatas atau tidak terbatas? Sudah pasti jawabanya adalah terbatas. Sedangkan sifat Tuhan sama sekali tidak terbatas oleh ruang dan waktu yang melingkupinya. Kekuasaanya, keilmuanya, ke-muliaanya meliputi segala hal baik yang di bumi dilangit, lahir maupun batin. Dengan demikian muqtadlayat uluhiyah (prasyarat mutlak yang harus dipenuhi) kedua adalah al-itlaq (tidak terbatas).

Pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapan, sampai kapan sifat yang engkau miliki itu berlangsung? Seratus tahun kah, atau seribu tahun, atau satu generasi atau berapa generasi? Yang pasti semua itu akan berakhir. Sedangkan sifat Allah tidak akan pernah terhenti, kekal abadi selamanya. Dengan demikian muqtadlayat uluhiyah (prasyarat mutlak yang harus dipenuhi) ketiga adalah al-sarmadiyah (kekal).

Kemudian yang menjadi pertanyaan terakhir adalah dari mana, maksudnya kalau memang kamu alim, dari mana atau dari siapa ilmu itu datang? Dari bapak, guru, syeikh atau dari mana? Sungguh maklum bahwa ilmu seorang hamba adalah hasil istimdad (berasal dari yang lain), sedangkan sifat Allah tidak berasal dari yang lain melainkan dari diriNya sendiri (dzati). Dengan demikian muqtadlayat uluhiyah (prasyarat mutlak yang harus dipenuhi) keempat adalah al-dzatiyah (semua berasal dari DzatNya sendiri).

Maka, barang siapa yang mengklaim dirinya mempunyai salah satu dari keempat sifat tersebut maka dia telah menjadikan dirinya sekutu bagi Allah, atau menisbatkan salah satu dari empat sifat diatas kepada seseorang selainNya dialah yang berhak disebut dengan musyrik. Maka benang merah yang bisa kita ambil pengertian syirik adalah mempersandingkan Allah dengan yang selainNya dalam sesuatu yang tidak layak kecuali bagi Dia (al-ithlaq, al-sabaq, al-sarmadiyah, al-dzatiyah). Dia lah al-awwal bi la bidayah, wa al-akhir bila nihayah. Dia lah dzat yang mutlak dan segala sesuatu berasal dariNya.

Seseorang yang tidak menisbatkan suatu sifat ketuhanan ini kepada dirinya ataupun orang lain berarti dia terbebas dari tuduhan syirik. Dengan mengetahui pengertian syirik ini semoga tidak ada lagi hobi mensyirikan orang lain juga membid’ahkannya.

Selanjutnya adalah pengertian tentang kufur. Seperti halnya syirik ternyata kufur juga mempunyai banyak pengertian. Namun akan kita ambil pengertian yang paling sederhana, yaitu menisbatkan kepada Allah sesuatu yang tidak layak bagiNya (kualitas, kuantitas, tempat atau ruang, lawan, kawan, serupaan, sekutu, istri, anak dll). Maka segala yang terbesit dalam angan adalah sirna, dan sesungguhnya Allah tidak seperti yang diangankan. Dengan ungkapan yang sederhana bahwa kufur adalah keyakinan akan adanya gambar atau rupa bagi Allah.

Lantas bagaimana dengan orang yang bersyahadat? Sementara dia berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sayyiduna Muhammad adalah utusan Allah. Dalam syahadatain itu manusia berikrar bahwa sayyiduna rosulullah adalah perantara antara hamba dan Tuhan. Pengakuan kepada Allah dengan ketuhanaNya serta pengakuan terhadap Sayyidna Muhammad dengan risalahnya, dengan berdasar pada keyakinan bahwa segala manfaat dan madharat adalah milik Allah. Seseorang yang demikian tidaklah dalam golongan kafir, walaupun berusaha untuk mengambil manfaat yang Allah titipkan dalam diri manusia, tumbuhan bahkan binatang. Karena sesungguhnya segala kebaikan ada di tanganNya, dan Ia berhak menitipkan manfaat itu pada setiap sesuatu yang Ia kehendaki, sedangkan bagi orang mu’min hendak lah mencarinya dimana Allah meletakkan kebaikan tersebut. Sebagaimana firmanNya “dan Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”.

Makna yang ingin kita ketahui selanjutnya adalah ibadah dan ittiba’ (mengikuti). Dalam ibadah, sesungguhnya dzat yang kita tuju keridloanya adalah sang ma’bud itu sendiri. Berbeda hal nya dengan ittiba’, bahwa yang kita tuju bukan dzat yang diikuti, melainkan dzat yang mengutus al-muttaba’ itu sendiri, karena dengan taat kepada al-muttaba’ berarti telah taat kepada Allah “barang siapa yang taat kepada Rosul, sungguh dia telah taat kepada Allah”.

Seorang mukmin tidaklah menyembah al-muttaba’, karena rosul bukan al-ma’bud. Demikian juga dengan para auliya’ dan orang–orang salih yang kita ikuti, sejatinya ketaatan kita kepada mereka sama sekali tidak berarti sebuah ibadah. Dengan kata lain al-ma’bud tidaklah al-muttaba’ dan al-muttaba’ bukanlah al-ma’bud.

Perlu dimengerti bahwa substansi dari pada akidah islam adalah bagaimana membedakan antara ibadah dan ittiba’, sehingga orang yang menuduh seorang al-muttabi’ sebagai ‘abid sungguh ia telah tergelincir dalam kebodohan. Dalam pengertian ittaba’ juga ada unsur yang namanya hub atau cinta, karena tidaklah mungkin kita bisa ittiba’ kepada rosul jika cinta itu tidak bersemayam dalam jiwa kita. Akan tetapi cinta adalah sesuatu dan ibadah adalah sesuatu yang lain, sebagaimana disabdakan oleh rosulullah Saw “cintailah Allah atas segala karunia yang tercurah kepada kalian, dan cintailah aku karena cintamu kepadaNya” dan cinta disini bukan semata cinta kepada rosul Saw melainkan kepada Allah. Sebagaimana firmannya “katakanlah (wahai Muhammad) jikalau kalian mencintai Allah (al-ma’bud) maka ikutilah aku (rosulullah Saw), maka kunci agar bisa sampai kepada cinta Allah adalah dengan mengikati Rosulullah Saw, mengikuti segala yang beliau ajarkan dengan sepenuh hati.

Makna selanjutnya yang ingin kita kuak adalah kalimat “min dûnillahi-selain Allah-“, memang benar bahwa yang dimakud kalimat tersebut adalah para auliya’, namun bukan auliya’ Rohman yang dimaksud, akan tetapi auliya’ syetan lah yang dimaksudkan oleh kalimat tersebut. Perlu dipahami kata-kata auliya secara garis besar ada dua pemaknaan yaitu auliya’ syaithon dan auliya’ Allah. Sehingga bagi orang mukmin hendaknya mengambil para mukminin sebagai auliya’ bukan para kafirin.

Dengan mengetahui arti kata ibadah, ittiba’, dan juga “min dûnillahi-selain Allah-“, maka salah kaprah terhadap pemahaman ajaran islam sedini mungkin bisa dihindari, karena dari salah perngertian tersebut akan menggelincirkin kita kepada debat kusir yang tiada ujung dan pangkal. Dari pengertian itu pula sudah selayaknya vonis kufur dan haram menziarahi makam para auliya hilang dari benak kaum muslimin, sehingga islam benar-benar menjadi agama yang damai demikian juga umatnya.

Wala haula wala quwwata illa billah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s