Identifikasi Para Pewarits Nabi

Identifikasi Para Pewarits Nabi

segala yang ada di dunia ini pasti akan berakhir, investasi property akan musnah, harta kekayaan akan sirna, dan masyarakat pun akan hilang entah kemana. Akan tetapi ada satu yang akan tetap tersisa, yaitu kekayaan ruh yang akan senantiasa menjadikan instuisi batin manusia tetap terjaga dengan kenikmatan iman, sehingga melahirkan kasih sayang, hikmah dan petuah bijak.

Seorang pujangga lama pernah bertutur:

Cobalah mengerti seorang raja yang agung ini.

Menjaga yang kekuasaanya setup hari dan petang.

Bagaimana seorang penguasa datang dan pergi dengan keharuman masing-masing.

Dengan keterbatsan waktu dia hidup.

Kemudian pergi menuju sebuah pemberhentian.

Sebuah pintu kehidupan yang kita masuki dulu adalah pintu keamatian untuk kita keluar nantinya. Ketika kita datang kedunia ini sebagaimana air yang mengalir, maka kita pun akan keluar dari dunia laksana angin yang berhembus. Dalam kamus besar kehidupan manusia tertulis bahwa hidup adalah pilihan. Baik atau buruk, beriman atau tidak, toleran atau intoleran dan lain sebagainya. Pilih mana yang anda suka, kerjakan apa yang anda bisa namun jangan lupa bahwa semua ada ”hisab”nya.

Barang yang halal sudah pasti jelas, demikian juga yang haram. Seekor kucing akan lari tunggang langgang ketika anda memergokinya dia sedang mencuri ikan yang ada dimeja makan. Walaupun sebenarnya dia akan menikmati ikan tersebut tanpa harus berlari ketakutan kalau saja anda memberikan ikan tersebut dengan senang hati. Artinya kucing saja tahu mana yang halal dan yang haram bagaimana dengan manusia?. Mari kita lihat seksama kondisi hati kita. Niscaya akan kita dapati apa yang kita cari kalau seandainya hati kita memang benar-benar bersih dan suci dengan berlandaskan keimanan yang teguh.

Rosulullah Saw bersabda “segala yang halal jelas, demikian juga yang haram. Dan diantara halal dan haram ada perkara yang disebut dengan mutasyabihat, barang siapa yang terjatuh dalam syubhat, niscaya akan mudah tergelincir dalam keharaman, sebagaimana seorang penggembala yang mencoba mendekati perbatasan(yang dilarang, niscaya dia akan menerobosnya. Sungguh setup pemilik pasti mempunyai perbatsan, sedangkan pertasan Allah adalah segala yang dilarangNya. Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal darah yang ketika dia baik, maka akan baik pula seluruh jasadnya. Akan tetapi kalau hati itu busuk maka akan busuk pula jasadnya (amalanya)”.

Hadits ini akan mudah dipahami ketika kita bisa mendiskripsikanya dalam bentuk diagram dan gambar. Pertama; coba kita gambarkan ada sebuah jalan lurus, yang kanan kirinya terbentang perkebunan luas. Suatu ketika, ada seorang pengembala dan kambing gembalaanya yang melintasi jalanan itu. Secara otomatis, kambing-kambing tersebut pasti sangat bernafsu melihat hijaunya padang perkebunan itu. Namun dengan seketika si penggembala yang merupakan pawang kambing itu, mengacungkan tongkatnya isyarat larangan akan tanaman-tanaman yang menggiurkan bagi si kambing. Lagi pula takut, kalau seandainya tanaman tersebut mengandung pupuk yang membahayakan si kambing. Sehingga tanaman pun tidak rusak dan kambing tidak teracuni karena kelihaian sang penggembala. Namun apa jadinya, kalau ternyata si penggembala itu tertidur pulas di rindagnya pepohonan?. Sudah bisa dipastikan kambing-kambing tersebut semakin liar menikmati tanaman dan rerumputan yang ada di perkebunan tersebut.

Kedua; coba kita bayangkan kalau seandainya ada orang(tidak pawang kambing) yang melihat kejadian itu, kemudian dia berusaha menggiring kambing-kambing itu keluar dari ladang, apa yang terjadi?, pastinya dia akan gagal menggiring kambing itu ke ’jalan yang benar’, karena dia tidak mempunyai kelihaian sebagaimana sang penggembala. Sehingga akan capek sendiri tanpa meraih hasil maksimal.

Ketiga; maka datanglah orang ketiga yang bisa dibilang cerdas. Dan bertanya ke orang yang kedua tadi,”apa yang kamu kerjakan?”.

Orang kedua pun menjawab, ”aku sedang menggiring kambiang-kambing ini agar keluar dari ladang”.

”oo…bukan begitu caranya”, lanjut si orang ketiga.

Lantas si orang ketiga itu pun berlari menuju si penggembala yang tertidur, kemudian membangunkanya. Dengan sekali acungan tongkat kambing-kambing itu pun kembali ke ’jalan yang benar’. Dengan kelihaian si penggembala pula, ladang-ladang itu selamat dari kerusakan. Maha suci Allah yang berfirman ”dan allah Swt akan terus membuat permisalan-permisalan itu untuk manusia, sesungguhnya Dia maha tahu akan segala sesuatu”.

Lantas apa sih sebenarnya maksud dari diagram dan penggambarang misal diatas?. Ya ! dedaunan hijau yang diminati kambing itu adalah segala sesuatu yang haram. Kambing-kambing itu adalah anggota tubuh kita (tangan, lisan, mata dan lain sebagainya). Sang penggembala adalah ibarat hati yang seharusnya menguasai segala gerak gerik anggota badanya. Sosok kedua yang tidak mempunyai keahlian menggembalikan kambing ke jalan yang sebenarnya adalah umpama kaum retoris yang berusaha menyembuhkan peryakit hanya dengan pidato-pidato semata sehingga akhirnya gagal. Tidak ada maksud untuk merendahkan atau melecehkan mereka yang dijuluki singa podium itu, nammun karena kemampuan mereka hanya terbatas untuk menanggulangi penyakit saja tanpa bisa menyembuhkan ketika ternyata penyakit tersebut sudah menjangkiti tubuh manusia. Dengan kata lain tugas mereka adalah untuk mencegah bukan mengobati. Karena untuk mengobati penyakit tersebut, ada ulama’ lain yang memang Allah anugerahi kemampuan untuk membangunkan hati yang lelap tertidur. Kemudian sosok ketiga yang membangunkan si penggembala adalah salah seorang dari mereka yang alim dalam suatu hal yang lain.

Mereka adalah para ulama’ yang difirmankan Allah ”sungguh, yang paling takut akan Allah diantara hamba-hambaNya adalah para ulama’”. Mereka itu adalah para pewarits nabi. Mereka tahu bagaimana semestinya mengkomunikasikan hati, membangunkan hati yang tidur terlelap. Sehingga ketika hati itu telah terbangun, maka dengan sendiri nya anggota badanya pun akan mudah terkontrol.

Ulama’ adalah ibarat batrei yang terisi dengan ilmu. Sebagai mana yang kita ketahui bahwa jenis batrei ada dua macam. Jenis pertama adalah batrei yang sekali pakai. Artinya kalau ‘isi’nya habis maka tidak bisa dipakai untuk yang kedua kali. Sedangkan jenis kedua adalah batrei ’isi ulang’ atau recharge-able, yang ketika habis bisa di isi ulang dengan charger nya. Nah, charger inilah yang nantinya kita kenal dengan sebutan madad yang menghubungkan aliran ilmu dari Allah kepada para ulama, sebagaimana firman Allah Saw ”dan bertakwalah kalian, niscaya Allah akan mengajari kamu sekalian”.

Kemudian, ulama’ bagaimana yang berhak disebut sebagai pewarits para nabi sebagaimana disabdakan Rosulullah Saw ”ulama’ adalah para pewarits nabi” itu?, apakah setiap dari mereka yang pandai di katakan ulama?, apakah mereka yang telah meraih gelar doktoral atau profesor dari suatu universitas berhak di sebut ulama?. Bukankah para nabi, tidak ngalap ilmu dari buku ataupun dari membaca? Atau apakah ada orang sebelum mereka (para nabi)yang mengajarkan ilmu kepada mereka?.

Sesungguhnya para nabi itu mendapatkan ’gratisan’ ilmu langsung dari Allah. Maka, hanya ulama’ yang mendapatkan hibah ilmu dari yang Maha tahu lah yang berhak meyandang gelar waratsah al-anbiya’. Mereka adalah pribadi-pribadi yang termaktub dalam firman Allah ”kemudian kami waritskan kitab itu kepada hamba-hambaku yang telah kami pilih”. Maka mereka yang mendapatkan waritsan ’kitab’ itu adalah yang berhak disebut ulama’. Tidaklah sosok ulama’ itu sebagaimana yang kita fahami saat ini. Demikian ulama’ yang benar-benar ulama adalah sebagaimana tersebut dalam firman Allah Swt, ” dan dia (sayiduna Musa as) telah menemukan satu dari hamba-hamba ku yang telah aku anugerhakan ilmu dan rahmat langsung dari Ku”. Mereka adalah ahmba-hamba yang telah mendapat hibah ilmu. Kata hibah disini menunjukan bahwa ilmu tersebut diberikan secara Cuma-Cuma, kepada hamba yang Ia kehendaki.

Maka, para nabi adalah terbatas dengan syariat atas izin Allah, sedangkan para wali terbebas dengan qudroh atas izinNya pula. Dengan syarat ta’liq iradah nya Allah ”Allah menggantungkan sebagian iradah yang Ia kehendaki kepada iradah seorang hamba yang di kehendakiNya, sedangkan Dia mengerjakan apa yang Ia kehendaki”. Ketika seorang hamba ’tahu’ dan ’mampu’, maka ia termasuk dalam kategori mukhayar yang akan di pertanggungjawabkan amal perbuatanya. Sedangkan seorang hamba yang tidak ’tahu’ dan tidak ’mampu’ atau salah satunya, maka tergolong dalam insan musayyar yang terbebas dari hisab amalan. Semisal orang yamh tahu tata cara, syarat dan rukun haji seta mampu melaksanakanya, maka ketika dia tidak melaksanakannya akan di hisab kelak di hari akhir.

Demikian juga dalam hal merubah kemunkaran. Dua syarat diatas harus terpenuhi, karena pada dasarnya Allah tidak membebankan suatu taklif kecuali hal itu dalam ke’mampu’an dan ke’tahu’an seorang hamba. Wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s