Arti dari Sujudnya Malaikat Kepada Nabi Adam A.S

Arti dari Sujudnya Malaikat Kepada Nabi Adam A.S

Sebelumnya, izinkanlah saya keluar dari zaman yang semakin sempit ini. zaman yang nge trend dengan pengawetan penafsiran dan pendapat yang siap saji layaknya menu sarapan pagi. Jawaban-jawaban yang kita dengarkan pada era ini sering membuat kita terobsesi untuk memberikan counter attack atau serangan balasan. Sekali lagi, izinkan saya untuk undur diri dari zaman yang tiada ijtihad didalamnya, seiring dengan emosi dan akal kita yang semakin tertekan.

Allah Swt berfirman:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Al-Baqarah ayat 30

Dari mana para malaikat mengetahui bahwa nantinya anak cucu sayidina Adam as, akan menjadi perusak bumi dan mengalirkan darah?. Apakah hanya itu (kerusakan) saja yang akan mereka perbuat?. Bukankah nantinya mereka juga akan memakmurkan bumi?. Tidakkah akan keluar dari mereka para nabi dan wali?.

Lantas, kemudian kebanyakan mufasir dan da’I tergesa-gesa mengambil ijtihad bahwa mahluk yang dimaksudkan para malaikat yang telah membuat kerusakan tersebut adalah mahluk sebelum sayidina Adam as. Akan tetapi hal itu juga tidak benar. Karena sayidina Adam adalah mahluk jenis manusia yang pertama kali tercipta. Tidak ada mahluk lain yang tercipta sebelumnya. Para malaikat telah mengetahui dari Allah apa yang yang dilakukan anak cucu sayidina adam, bahkan sebelum penciptaan sang kakek moyang (sayidina Adam). Karena pada dasarnya tidak ada jenis ghaib yang hanya diketahui oleh Allah, namun tidak menutup kemungkinan untuk diajarkan kepada yang Ia kehendaki. Memang Allah telah membukakan tabir keghaiban kepada para malaikat untuk mengetahui satu sisi khashais anak cucu sayidina Adam. Namun, bukankah banyak sisi lain yang masih Allah sembunyikan dari mereka?. Dengan kata lain, Allah telah memberitahukan kepada malaikat karakteristik perusak dan pengalir darah yang dimiliki manusia, namun Dia juga meng-hide sisi yang lain. Sejatinya pertanyaan para malaikat dalam ayat (أتجعل فيها من يفسد فيها و يسفك الدماء) adalah redaksi meminta keterangan bukan pengingkaran. Sedangkan perkataan mereka (و نحن نسبح بحمدك و نقدس لك ) bukan berarti bahwa mereka lebih utama dari yang lain. Melainkan, bahwa mereka kala itu sedang bertanya dan meminta keterangan. Kerena mereka tidak mengetahui banyak sisi yang sedang Allah sembunyikan, sehingga Allah mengatakan”

“Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah ayat 30)

Sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada sayidina Adam seluruh asma’. Namun, nama-nama apa saja yang telah Allah Ajarkan sehingga para malaikat bersujud kepadanya?. Sebagian besar para mufassir menilai bahwa asma tersebut adalah nama-nama segala hal yang akan manusia kenal dari awal penciptaan sampai akhir zaman. Yakni segala hal yang telah diketahui oleh nenek moyang kita dan juga yang akan diketahui generasi setelah kita semisal pohon, gelas, sungai, meja, langit, computer, radio, televisi dan lain sebagainya. Menurut mereka itu adalah asma’ kullaha sebagaimana terdapat dalam ayat Al-qur’an. Lantas benarkah demikian?, tentu tidak karena yang namanya isim hanya diungkapkan untuk menyatakan atau menyebut musamma. Dan musamma haruslah lebih dahulu tercipta daripada isim dalam wujudnya. Sehingga hal ini mengandung pengertian bahwa nama hal-hal yang diketahui oleh sayidina Adam telah tercipta. Berarti sayidina Adam bukanlah mahluk pertama yang tercipta. Yang berarti juga bahwa Allah telah menunjukkan kepada sayidina Adam seluruh nama barang semisal dalam bentuk katalog showroom. Dan berujung pada kesimpulan bahwa sayidina Adam adalah akhir mahluk yang tercipta.

Akan tetapi ketika kita menelaah ulang firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 31 yang berbunyi:

“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. (Al-Baqarah ayat 31)

Akan kita dapat bahwa penafsiran tersebut (al-asma’ = nama-nama benda) terkesan tergesa-gesa. Kenapa?, karena dalam ayat tersebut Allah menggunakan redaksi (عرضهم) bukan ( (عرضهاapa bedanya?. Dalam bahasa arab kata عرضهم menunjukan arti benda yang berakal sedangkan kata عرضها untuk benda tak berakal demikian juga kata هؤلاء menunjukkan bentuk jamak benda yang berakal. Pemahaman yang ditelurkan sebagian mufassir ketika memahami ayat diatas acapkali mengaburkan pemaknaan Al-qur’an yang ideal. Kalau al-asma’ yang Allah ajarkan kepada sayidina Adam bukanlah nama benda-benda mati, lantas apa maknanya?.

Kalau kita mengetahui hakekat hubungan antara Allah dan malaikat adalah hubungan otomatis, niscaya akan kita ketahui sebab dan teka-teki yang terdapat dalam kata (الأسماء كلها). Ya!, sesungguhnya para malaikat adalah mahluk yang tercipta dari nur asma’ ilâhiyah, karakternya dia akan bersujud kepada nur yang ia tercipta darinya, dan melalui nur inilah mereka mengenal Allah sang pencipta. Sehingga ketika dilihatkan nur yang selainya ia akan tertutup darinya (karena hal itu diluar nur yang darinya ia diciptakan), tidak bisa melihat dan tidak sujud kepadanya. Hal itu layaknya sebuah receiver parabola yang hanya bisa menerima satu signal saja yang sesuai dengan settingan receiver tersebut, walaupun sebenarnya masih banyak signal lainya.

Seperti itulah para malaikat. Setiap jenis malaikat hanya bisa menerima dan melihat nur isim dari asma’ Allah Swt yang darinya ia tercipta. Ketika suatu nur isim Allah ber tajalli, maka ia akan sujud dan tunduk kepadanya. Misalnya ada malaikat yang hanya sujud kepada isim Rahmân saja, tidak sujud juga tidak mengetahui terhadap isim selainya. Ada juga malaikat yang hanya sujud kepada isim Quddûs saja, tidak sujud juga tidak mengetahui terhadap isim selainya.

Maka, tatkala Allah berucap kepada sayidina Adam as,

“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka (asma’ ilâh)” . (Al-Baqarah ayat 33)

Dan ketika sayidina Adam mengucapkan keseluruhan asma Allah, maka sujudlah seluruh malaikat yang mengetahui dan merasa tercipta dari asma tersebut. Hal ini berarti bahwa nama-nam tersebut lebih dahulu tercipta sebelum wujud sayidina Adam as, dan musamma telah ada serta berdiri sendiri dengan dzat dan kuasanya. Dialah Allah dzat Yang Maha dahulu mendahului segalanya, abadi melebihih batas tempat dan masa.

Ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada sayidina Adam, apakah hal itu berarti sujud li ghairillâh?. Selamanya, sujud haruslah atas perintahNya dan hanya kepadanya. Sebagaimana redaksi ayat (أطيعو الرسول ) yang berarti bahwa ketaatan kepada rosul adalah ketaatan kepada Allah, sehingga barang siapa bersujud kepada Adam (atas perintahNya) berarti telah bersujud kepada Allah. Sedangkan mahluk yang menolak sujud kepada sayidina Adam adalah golongan iblis, mahluk sombong yang mengaku bahwa dirinya lebih baik daripada sayidina Adam. Dan sungguh Allah menilai bahwa kepenolakannya untuk sujud kepada sayidina Adam adalah penolakan untuk bersujud kepadaNya.

Sesungguhnya iblis pada saat itu adalah golongan malaikat Allah, akan tetapi mereka tidak tercipta dari nur asma’ Allah, melainkan dari nur api. Mereka tidak mempunyai nur yang kepadanya mereka seharusnya tunduk dan sujud. Lantas mengapa tidak sujudnya iblis dianggap sebuah dosa?. Kenapa harus menanggung segala kutukan?.

Kalau saja iblis berhenti berpendapat ketika proses tajalli asma saja, niscaya ia tidak akan di laknat. Akan tetapi, mereka terus mendebat Allah dengan mengatakan

“…menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” . (Al-A’raf ayat 12)

Mengapa Allah murka kepada iblis?. Karena adab iblis yang keterlaluan terhadapNya dengan terus mendebat TuhanNya. Dan hal ini berbeda dengan sopan santun para malaikat yang tunduk kepada Allah dengan mengatakan

“….padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” . (Al-Baqarah ayat 30)

Para malaikat sama sekali tidak menentang irâdah TuhanNya, beda halnya dengan iblis.

Ada pertanyaan lain yang harus kita jawab disini. Apa arti perkataan Allah kepada iblis sebagai berikut:

“..apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” . (Shâd ayat 75)

Ayat ini menerangkan bahwa hakekat malaikat yang diperintahkan untuk bersujud kepada sayidina Adam adalah para malaikat falakiyîn (malaikat yang berada di langit dan bumi) saja. Sedangkan malaikat al-shâlun, secara derajat mereka lebih tinggi dari malaikat falakiyîn sehingga mereka tidak di suruh bersujud kepada sayidina Adam. malaikat al-shâlun juga disebut dengan malaikat al-karubiyîn dan al-hâffîn min hauli al-‘arsy. Sehingga ayat diatas bermakna “apakah engkau berlaku sombong dan menyamakan diri kalian dengan malaikat al-‘âlîn yang tidak diperintahkan bersujud kepada sayidina Adam?”. Sedangkan para malaikat falakiyîn akan menghadap kepada sayidina Adam kemanapun beliau akan menghadap. Mereka laksana bunga matahari, kemana manatahari pergi ia akan mengikutinya. Laksana jarum kompas yang akan selalu menghadap ke arah utara.

Ada satu soal terakhir yang harus dijawab. Apakah asma’ ilahiyah juga menjadi kiblat sujud bangsa manusia? Atau ia hanya kiblat bagi para malaikat saja?. Bagaimana bisa manusia menentukan khalifah sebagai poros tempat bersujud? Sedangkan mereka tidaklah seampuh para malaikat yang bisa mengetahui dimana asma’ ilahiyah bersemayam.

Ya! Inilah rahasia kenapa ka’bah diletakkan tepat di tengah-tengah bumi. Disanalah asma’ Allah bertajalli, sehingga mempermudah bagi manusia untuk mengetahui tempatnya. Disana pula lah Allah meletakkah ruh khilafahNya.

Allah telah menetapkan tempatnya, karena manusia tidak mempunyai kemampuan sebagaimana para malaikat. Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia bukan malaikat, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” . (Ali Imran ayat 96)

Ketika Allah mengatakan وضع للناس ini berarti bahwa manusia bukan lah yang meletakkan. Melainkan para malaikat lah yang telah meletakkan pondasi ka’bah. Redaksi itu juga tidak melarang para malaikat untuk thawaf disekelilingnya. Akan tetapi hal itu ada demi mempermudah manusia untuk menentukan kiblat. Dengan demikian sujud kepada ka’bah berarti sujud menghadap ka’bah. Demikian sujud kepada Adam berarti sujud menghadap Adam. Sedangkan kesemuanya itu adalah sujud kepada Allah Swt.

Lâ haula wa lâ quwwata illâ billah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s