Hamparan Rahmat Alloh SWT

Limpahan Rahmat Allah, luwesnya al Quran dan kebodohan manusia.
Berlahan, bulatan matahari itu beranjak ke peraduanya setelah lelah memacarkan cahayanya seharian penuh. Terik pun lambat laun mendingin seiring lambaian senja dari ufuk barat. Hamparan air laut yang bercampur senja sore seakan memberikan irama mesra nan romantis. Dalam keheningan sore itu aku terdiam sendiri, seakan tersihir dengan kendahan yang ditawarkan. Sembari menikmati suasana alam, seakan fikiranku membuka, hatiku bergejolak, dan aliran darahku mulai berdesir membayangkan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Entah berapa jam telah kuhabiskan untuk tepekur itu. Entah berapa banyak syaraf otakku yang terperas. Aku tidak tahu kenapa pertanyaan-pertanyaan itu begitu sulit terjawab.
kenapa harus ada perbedaan diantara umat islam yang notabene masih dalam koridor se’akidah’? kenapa dengan mudahnya tuduhan kafir, fasiq, atheis dan lain sebagainya semakin mudah terlontar dari mulut-mulut kaum muslimin, serasa kita adalah calon penghuni nereka? Kenapa mereka mengharamkan kehidupan yang saat ini kita jalani? Kenapa hanya kekeringan yang terasa dalam fatwa mereka? Kenapa mereka mengalihkan masalah yang boleh di bilang urgen dalam kehidupan seperti kesombongan, kediktatoran, egoisme, dan kebodohan kepada masalah yang sifatnya sepele seperti pengharaman mesin cukur?
Syahdan, islam adalah agama yang diturunkan dalam bingkai masyarakat badawi yang suka berperang, terlecehkan dengan perbudakan, dan suka mendiskriminasikan perempuan. Bagaimana bisa mereka menerima dan berinteraksi dengan islam secara elegan, dinamis dan penuh kemudahan? Sedangkan kita yang hidup dalam kemajuan peradaban beserta haru birunya dunia seakan gagal total berinteraksi dengan agama samawi itu. Perihal apa yang telah merubah sebuah rahmat menjadi kekerasan? Apa yang menjadikan bungkus kita rapi dari luar namun busuk di dalamnya?.
Langkah dinamis mereka berinteraksi dengan islam menunjukkan bahwa islam adalah mudah, lantas apa yang menjadikanya terasa susah bagi kita? Kemudian apa yang menjadikan benang kusut ’islam’ itu semakin kusut dan susah terurai?.
Entah mengapa lamunanku itu tertuju kepada sebuah jawaban yang saya rasa cukup solutif yaitu kealpaan kita akan ’kaidah-kaidah baku’ agama yang seharusnya dijadikan pondasi pemahaman agama, sebagaimana kita melupakan akar pohon sebagai sumber kehidupan dan sibuk berdebat tentang dedaunanya. Maka ketika kode dasar kebahsaan hilang kita pun akan semakin kehilangan kesatuan bahasa, sehinga ketika kesepahaman pun hilang maka yang terjadi hanyalah cerai berai antar umat dan retaknya kasih sayang antar sesama.
Kalau kita fikir lebih lanjut, segala perbedaan sebetulnya berpangkal dari perbedaan perspektif atau sudut pandang. Artinya, suatu hal akan menjadi berbeda tergantung dari mana di pandang. Kita bisa saja menyebut perjuangan rakyat palestina yang terjajah sebagai pertempuran syahid, namun hal itu tak ubahnya seperti aksi teror jika dipandang dari pihak musuh. Demikian juga ketika kita memetik setangkai bunga sebagai hadiah kepada orang yang kita cintai, sungguh hal itu akan mencitrakan diri kita sebagai orang yang romantis. Namun kita tidak lain hanyalah seorang pembunuh yang arogan ketika di tilik dari perspektif sang bunga.
Ada banyak contoh kenapa kita harus bisa menyatukan pemahaman dalam bingkai tata bahasa. Misalnya adalah kata ’bunga’. Menurut ahli botanic, bunga adalah suatu tanaman yang begitu menawan serta menghasilkan aroma menyegarkan. Namun kata bunga tersebut akan berbeda ketika yang mengungkapkan adalah para bankir. Mereka mengartikan bunga sebagai uang tambahan dari pinjaman awal. Kalau kita tidak bisa bersepakat atas suatu makna kalimat, dan cenderung membiarkan masing-masing memaknai suatu kata seenak perut mereka sendiri, maka seakan-akan hal itu sebagaimana memperbolehkan tukang rel kereta membangun rel seenak diri mereka tanpa ada ketentuan yang jelas berapa ukuranya, lebarnya dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya kereta tersebut tidak mampu berjalan karena lintasan rel yang tidak cocok dengan roda lokomatif tersebut.
Demikian juga kita tidak mampu memahami dunia ketika tidak ada kata sepaham diantara kita. Tidak mungkin adanya saling kesepahaman antar muslimin jika tidak ada satu bahasa agama yang sama, yaitu bahasa yang berkaidah baku nan jelas serta pengertian yang tetap. Pun kaum muslimin, mereka seakan kehilangan kesepahaman karena robohnya ’jembatan’ bahasa yang menghubungkan satu sama lain. Mereka berkata sesuai dengan cita rasa masing-masing, berfatwa dengan nafsu masing-masing maka yang terjadi hanyalah kerusakan, kemiskinan, kekafiran dan lain sebagainya. Ketika bahasa mulai menyempit dari pemaknaanya maka islam pun ikut menyempit.
Coba kita tengok bagaimana para komposer dan musikus, dimana mereka mempunyai satu kesamaan kode sehingga memudahkan dalam memahami tangga nada yang dibawakanya lewat lantunan lagu. Demikain juga dunia kedokteran, mereka mempunyai rumus baku tentang penyakit sehingga mempermudah mencari obatnya, pun para pemain bola yang mempunyai aturan main. Kesemuanya adalah dalam rangka menyatukan pemahaman. Akan tetapi sungguh ironis ketika melihat ulama kita tidak mempunyai simbol-simbol baku agama yang memudahkan dalam pengambilan fatwa, sehingga kita lihat kehidupan kita seakan semakin sempit, susah dan pada akhirnya agama tidak mampu memberikan solusi bahkan hanya menambah beban hidup manusia saja.
Tidak syak lagi bahwa Allah menciptakan kita agar saling mengenal, dan keutumaan bagi orang yang paling bertakwa. Ta’aruf (saling memahami) adalah bahasa penyatu, ketika hal itu hilang dari kehidupan manusia, maka yang ada hanyalah ”orang-orang yang mencerai beraikan agama dan sungguh mereka terpecah, sedang masing-masing pasti akan mengunggulkan golongan nya sendiri”. Sesungguhnya kaidah dasar agama secara global termaktub dalam alqur’an sebagaimana kaidah tersebut terinci dalam sabda baginda Rosulullah Saw. Akan tetapi hilangnya bahasa penyatu menyebabkan semua orang mengikuti hawa nya masing-masing kemudian terus berjalan dan mengklaim secara sepihak bahwa mereka adalah satu-satunya yang paling benar.
Inilah sebenarnya biang perpecahan dan klaim sepihak yang membawa kita kepada keterbelakangan. Boleh dibilang karena hal ini lah kita semakin mudah di jajah, di ekspansi bahkan diperbudak, karena sebenarnya hal ini sangat remeh. Lantas kenapa kita terus memperselisihkanya? Kenapa kita masih berselisih dengan ’jabat tangan’, jenggot, tatacara masuk kamar mandi, membid’ahkan kue tart, lantas menjustifikasi bakal masuk neraka orang yang memakanya?. Sungguh ketika kita mempunyai kesepahaman bahasa sebagaimana kita memahami tangga nada, maka hilanglah klaim beserta tuduhan-tuduhan diatas, dan niscaya manusia akan menjadi lebih baik.
Hilangnya kaidah baku dalam kedokteran, memungkinkan perawat berubah menjadi dokter (karena yang membedakan antara dokter dengan perawat adalah penguasan bahasa baku kedokteran yang hanya dimiliki dokter bukan perawat). Hilangnya kaidah baku dalam dunia arsitektur, juga memungkinkan tukang batu berubah menjadi arsitek. Demikian juga hilangnya kaidah baku agama memungkinkan orang-orang bodoh berubah, berkedok alim nan faqih. Maka yang terjadi adalah fitnah pengkafiran, tumpang tindih antara sifat Tuhan dan manusia dan lain sebagainya. Kita sebagai manusia yang terkungkung dalam sangkar dunia tinggal menunggu keputusan hari kiamat. Dan heran rasanya ketika mendengar ada orang yang menghukumi sesama manusia dengan hukum yang semestinya hanya mutlak milik Allah Swt. Kita menjanjikan surga bagi yang ‘sealiran’ dan mengancam neraka bagi yang ‘bersebrangan’, bukankah surga dan neraka itu milik Allah, lantas kenapa kita mengkapling surga dan neraka?. Bagaimana kita bisa menghakimi mereka, padahal kita juga sama seperti mereka, sebagai tertuuh yang bakal dihakimi?. Sebelum datang peradilan tertinggi di sisi Allah –mungkin mendapat ampunan mungkin juga tidak karena kekuasaanNa-, maka tidak ada satupun yang bisa mengadili orang lain walaupun dia menggenggam ijazah univeristas islam ataupun masjid. Maka orang-orang yang membagikan cek pengampunan dosa, hukum penghardikan syirik, kufur, dan fasiq, sungguh seakan-akan dia mengambil alih tugas ke-Tuhan-an.
Suatu ketika datanglah kepada baginda Rosulullah Saw seorang pemuda arab yang meminta sesuatu dari beliau. Maka diberikanlah apa yang dia minta lantas kanjeng Rosul pun duduk diantara para sahabatnya seraya bertanya kepada pemuda tadi: ‘apakah aku telah berbuat baik kepadamu?’ lantas pemuda itu punmenjawab ‘belum wahai rosul’. Spontan para sahabat pun berang terhadap sikap pemuda itu. Kemudian dipegangnya tangan pemuda itu oleh rosul dan ditariknya ke dalam rumah, serta diberikan lah kepada pemuda itu hingga puas. Maka rosulpun kembali ke majelis sahabat seraya bersabda: ‘permisalan antara aku dan pemuda itu adalah sebagaimana seorang laki-laki yang melepaskan binatangnya yang kemudian dikejar-kejar manusia, hingga semakin lari menjauh. Maka datanglah si empunya binatang tadi dan berkata kepada manusia (yang mengejar binatangnya); ‘biarkan aku dan binatangku sendiri’, kemudian si empu pun memancingnya dengan sedikit makanan sehingga jinaklah binatang tersebut hingga mudah untuk di tangkap. Kita saja di perintahkan agar tidak menggangggu ‘keharmonisan’ antara si empu dan binatangnya, juga keharmonisan antara Rosulullah Saw dengan pemuda arab tersebut. Lantas kenapa kita harus ’ngobok-ngobok’ hubungan seorang hamba dengan Tuhanya?.
Seseorang yang mengeluarkan amar putusan kepada orang lain harus mampu melaksanakanya. Misalnya, seseorang boleh memvonis orang lain dengan neraka hanya ketika dia mampu menjebloskan orang itu ke neraka. Mereka boleh memasukkan orang lain ke surga kalau mampu memasukkan orang itu ke surga. Sungguh yang demikian itu seakan ingin melepaskan ‘baju’ ke-manusia-anya dan memakai ‘toga’ ke-Tuhan-an. Mereka ingin melepaskan baju terdakwa yang melekat ditubuhnya dengan mengenakan baju hakim yang sebenarnya hanya mutlak kepunyaan Allah.
Sungguh hamparan rahmat Allah teramat luas, kanjeng rosul selalu mewanti-wanti agar mempermudah tidak mempersulit, agar memberikan kabar gembira tidak kabar buruk. Barang siapa yang berlaku mudah maka akan mendaptkan kemudahan dan sebaliknya. Kalau kita telah mendeklarasikan bahwa rosulullah Saw adalah panutan utama, kenapa harus mencari panutan yang lain? Dan sudah lazim kita ketahui bahwa yang dicontohkan kanjeng nabi adalah inti ajaran islam. Bukankah rosul selalu bersikap adil, toleran, sederhana, kasih sayang, dermawan dan lain sebaginya? Bukankah kanjeng nabi adalah qur’an yang berjalan, lalu kenapa kita terang-terangan memotong sesuatu yang Rosul sambung? Untuk apa kita mengharamkan apa yang rosul halalkan? Kenapa kita bersikap arogan terhadap orang yang rosul bersikap lembut kepada mereka? “kalau saja engkau yang menciptakan mereka, niscaya kalian akan menyayanginya”, kanjeng nabi pun bersabda :”taubatnya seorang hamba masih akan diterima hingga nafas mencapai kerongkongan”, dan allah hanya tidak mengampuni orang-orang yang mensekutukanNya itupun karena syirik adalah tindak kejahatan terberat. Kenapa harus ada saling tuduh diantara kita? Sungguh dalam kondisi itu kita seakan lupa bahwa agama adalah konsep Tuhan, bukan manusia. Kita seakan terlena dalam kepelikan, padahal agama sungguh amat jelas seterang sinar matahari. Kalau kita tahu apa yang dimaksud dengan harta, maka janganlah kita mempersulit diri dengan mempertanyakan macamnya. Misalnya, apakah dolar amerika adalah harta? Apakah lira harta?, apakah emas juga harta?. Kita juga tahu apa yang dimaksud dengan makanan, maka jangan sekali-sekali bertanya apakah kue tart makanan?. Kalaupun hal itu kita kembalikan kepada agama, niscaya tidak akan pernah ada jawabanya, sama sekali. Justru hanya akan memancing polemik dan perdebatan yang tak berujung. Bisa dijamin, sesuatu yang mempunyai dasar pijakan tidak bakal menimbulkan polemik. Demikian juga agama yang beranjak dari hubungan antara hamba dan Tuhan, kenapa kita harus mensekat keduanya dengan fatwa kita?. Yang kemudian menimbulkan keresahan dan perpecahan hanya gara-gara fikiran pendek kita.
Misal, termaktub dalam al quran,” dan sebutlah nama tuhan mu…” sedangkan nama tuhan mu adalah Allah, maka kita pun boleh menyebut nama Nya itu. Namun ada juga yang mengatakan bahwa maksud dari kata dzikir itu adalah dzikir sebagaimana dimaksudkan ayat “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang Telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya”.
ini juga benar. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca qur’an adalah dzikir sebagaimana terindikasikan dalam firman Allah “sungguh telah kami turunkan al dzikr, dan kami akan menjaganya” dan ini juga benar tidak ada yang memungkirnya. Demikian juga ada yang mengatakan bahwa haji juga dzikir sebagaimana termaktub dalam ayat “ jika telah menunaikan manasik haji maka, sebutlah Allah” ini juga benar dan lain sebagainya. Semua ibadah mengandung unsur dzikir. Tetapi kita butuh dzkir yang terpisah dari ibadah, sebagaimana makanan yang selalu mengandung unsur air, namun kita juga butuh air yang terpisah terpisah dari makanan.
Dzikir adalah mengulang-ulang nama Allah tanpa mengharap suatu manfaat tertentu ataupun agar terhindar dari suatu mala bahaya. “sebutlah nama Tuhanmu…” kalau setiap orang memaknai kata dzikir sesuai dengan nafsunya masing-masing sungguh akan terjadi polemik yang luar biasa, dan kita akan terpaling dari pemaknaan pengulangan nama Allah. Kalau kita menutup rapat otak sebatas pemahaman kita, niscaya hanya kerugian yang kita dapat.
Sekiranya risalah ini sebagai ajakan kepada sesama untuk memperbaiki diri dengan jalan hikmah, dan muidloh hasanah baik antara Tuhan dan hambaNya, maupun antar sesama manusia. Tanpa bermaksud mengkebiri pendapat seseorang atau meremehkanya, ternyata masih banyak hal yang Allah sengaja biarkan agar manusia bisa saling berdialog menemukan kata sepaham, menemukan titk temu melalui hikmah dan maidzoh hasanah sebagaimana difirmankan Allah ”sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka serta bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian kalau kamu telah berbulat tekad maka bertawakalah kepada Allah swt”. Demikian juga firman Allah Swt “ serulah mereka kepada jalan tuhanmu dengan hikamh dan mauidloh hasanah dan berdebatlah dengan yang lebih baik dan sekiranya ada permusuhan diantara kamu akan berakhir dengan damai”. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s