Hikmah Ibadah Puasa

Hikmah Ibadah Puasa

Ada hadist Qudsi yang berbunyi : “Semua amal seorang anak âdam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberinya pahala”. (HR. Bukhari wa Muslim). Berkaitan dengan hal itu Ibn al-Qayyim al-Jawzî memberi penjelasan bahwa puasa itu: adalah untuk Tuhan Penguasa alam semesta, berbeda dari amal-amal yang lain. Sebab seseorang yang berpuasa tidak melakukan sesuatu apa pun melainkan meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya demi Sesembahannya yakni Allah swt. Jadi puasa adalah amal ibadah seorang hamba yang langsung ditujukan hanya untuk Tuhannya dengan meninggalkan kesenangan duniawi, meninggalkan makan, minum dan nafs insaniayah kerena rasa cintanya kepada Allah.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al Ibâdah Fi Al Islâm, Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sarat dengan bentuk pelarangan; larangan minum, makan, jima’ dari fajar hingga terbenamnya matahari. Kepatuhan seorang hamba akan larangan tersebut mencerminkan kecintaan hamba itu kepada Tuhannya. Di sinilah nilai seorang hamba akan dapat ditentukan. Kuatkah dia melawan hawa nafsunya menekan syahwatnya demi memanifestasikan cintanya kepada Tuhan.

Allah telah menentukan shiâm al mafrûdh pada bulan Ramadhan, bulan dimana al- Qur’an diturunkan sebagai “petunjuk” bagi umat Islam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Firman-Nya; “Bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2:185). Pada bulan tersebut Allah memerintah hamba-Nya untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga. Paling tidak Ada beberapa hikmah dibalik ibadah puasa ini, yaitu :

  1. Puasa sebagai pengokoh jiwa.

Manusia terdiri dari jasmani (jasad) dan ruhani (jiwa). Ruh inilah yang menggerakkan dan mengfungsikan seluruh organ tubuh manusia. Manusia bisa berpikir, merasakan, berkarya dan beraktifitas kerena adanya ruh ini. Karena ruh tersebutlah Allah memerintah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam a.s. firman-Nya, (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan menusia dari tanah Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh(ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya”. (QS. 38:72)

Ruh atau jiwa inilah inti dari eksistensi manusia itu sendiri dan menempatkan manusia sebagai mahkluk mulia yang menerima amanah sebagai khalifah Allah di bumi. Jika jiwa ini dikuasai oleh nafsu dan syaitan maka manusia akan menjadi hina, sejerajat dengan hewan yang tak berakal atau bahkan menjadi “keluarga besar” syaitan. Tapi jika jiwa itu murni, suci dan tidak terkontaminasi dengan “virus” godaan syaitan maka manusia akan menjadi makhluk yang paling mulia di antara seluruh makhluk yang telah Allah ciptakan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk”. (QS. 98:7)

Maka dari sini, Allah mewajibkan kepada manusia berpuasa guna membebaskan manusia dari rongrongan nafsu dan syaitan. Tak heran jika kemudian orang yang berpuasa memiliki derajat lebih tinggi dari yang lainnya di hadapan Allah jika puasa itu dilakukan dengan niat tulus. Rasulullah pernah bersabda, “Tiga do’a yang pasti dikabulkan, Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil dan hamba yang didzalimi” (HR. Turmidzi)

  1. Puasa membentuk jasmani yang sehat.

Jika puasa merupakan momen tepat untuk memperkokoh jiwa maka puasa juga dapat dijadikan ajang dalam rangka menguatkan jasmani. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak penyakit yang diderita oleh manusia disebabkan kelalaian dalam “menjaga” perut. Rasulullah bersabda, “Tidaklah anak adam mengisi bagian dari perutnya dengan hal yang tidak baik, yang mana makanan manusia telah memberatkan tulang punggungnya. Maka dari itu tidak boleh tidak, sepertiga dari perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernapas. (HR. Turmidzi).

Jika perut mudah terserang penyakit yang disebabkan oleh makanan maka puasa dan menjaga makanan yang berlebih-lebihan merupakan solusi terbaik. Menurut penelitian medis kencing manis dapat diatasi dengan puasa ( DR. Yusuf Qardhawi, Al Ibâdah fi Al Islâm, Maktabah Wahbah, 1995). Rasulullah bersabda, “Berpuasalah maka kalian akan sehat!” (HR Tabrâni)

  1. Ibadah sebagai pendidikan diri.

Puasa selalu mendidik diri kita untuk menjadi lebih baik, membiasakan kita untuk bersabar, menguatkan keimanan kita dalam menghadapi hawa nafsu dan godaan syeitan.

Di bulan Ramadhan kita masuk dalam worship training yang mana di dalamnya dibiasakan menjadi seorang muslim hakiki, bersikap jujur, amanah, suka menolong, memperbanyak berdzikir dan meningkatkan aktivitas ibadah lainnya. Jika dalam worship training ini kita menjadi peserta yang terbaik maka kita seakan terlahir kembali ke dunia ini tanpa memiliki dosa. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang berpuasa dengan keimanan yang tulus maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari).

Dengan puasa yang disertai niat tulus kita dapat mengendalikan nafsu sehingga dapat menjadikan kita lebih bijak dan arif. Maka tidak heran jika dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dinyatakan bahwa nabi Muhammad menyeru kepada para pemuda dan pemudi yang belum siap menikah untuk berpuasa sehingga mereka dapat mengendalikan hawa nafsu mereka. Dari situ jelas bahwa puasa dapat berfungsi sebagai perisai kita dari segala perbuatan maksiat.

  1. Mengenal nilai kenikmatan.

Bersyukur atas nikmat Allah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7). Puasa merupakan salah satu cara terbaik untuk membiasakan diri kita mengingat banyaknya nikmat yang telah Allah anugerahkan sehingga membuat diri kita terangsang untuk selalu bersyukur.

Saat berpuasa kita akan merasakan haus dan dahaga. Jika kita menggunakan momen itu untuk merenung sejenak, maka alangkah agungnya Allah yang telah menumbuhkan tumbuh-tubuhan dan menurunkan hujan. Tidak akan habis pikir bagaimana seandainya kita tidak bisa menemukan makanan dan minuman sehingga merasakan lapar dan dahaga dalam jangka waktu yang sangat lama, bisa jadi kita akan binasa karena hal itu.

Ketika menahan lapar dan dahaga selama satu hari, kita akan merasakan nikmatnya berbuka. Saat itu semakin terasa kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya dengan berbagai nikmat yang telah Dia anugerahkan.

  1. Puasa dapat meningkatkan solidaritas antar sesama.

Di antara hikmah puasa dalam kehidupan sosial adalah dapat meningkatkan solidaritas antar sesama manusia terutama mereka yang sedang mendapatkan cobaan dari Allah berupa kemiskinan dan kelaparan. Di saat berpuasa seseorang telah mengalami bagaimana rasanya lapar dan dahaga, tentu ketika ia melihat orang lain yang kelaparan akan segera terdetik rasa iba dihatinya sehingga ia terdorong memberikan pertolongan sesegera mungkin.

Di negeri kita banyak sekali ditemukan orang-orang yang kelaparan, anak-anak yang kekuarangan gizi sehingga membuat mereka sering sakit-sakitan dan hidup menderita, apa lagi baru-baru ini negeri kita dilanda bencana alam yang menelan korban jiwa dan harta. Tentu bencana yang datang silh berghanti tersebut memperbanyak deretan anak-anak yatim terlantar, orang-orang kelaparan sehingga sangat membutuhkan bantuan. Jika kita adalah orang yang suka berpuasa maka pasti akan tergerak hati kita untuk segera menolong mereka dengan segala daya dan upaya yang kita miliki, karena kita sudah merasakan dukanya lapar dan dahaga.

  1. Ajang Bertaqorrub kepada Allah sehingga menjadi hamba yang shôleh dan shôlehah

Puasa memberikan peluang besar untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena di saat berpuasa kita dituntut untuk selalu bertaqwa; melakukan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka di saat berpuasa muncul tuntutan untuk meninggalkan segala perbuatana tercela.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari). Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa berbohong dapat “mengaburkan” ibadah puasa kita, sehingga disaat berpuasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Inilah yang perlu diperhatikan oleh para shôimin sehingga tidak terjebak dalam jebakan syaitan.

Ramadhan akan tiba, semoga ibadah puasa yang kita lakukan tahun ini bermakna bagi diri kita, keluarga dan masyarakat luas pada umumnya, membawa perubahan besar pada kepribadian kita sehingga keberadaan kita di tengah-tengah masyarakat yang plural benar-benar menjadi berkah bagi mereka. Kita menjadi hamba Allah yang shôleh secara individu dan juga shôleh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s