Si awam dan sang alim.

Si awam dan sang alim.

Terkisah, ada tiga orang syeikh menumpang di sebuah sampan kecil yang dikemudikan oleh seorang nelayan miskin yang begitu tawadlu’. Ditanyalah sang nelayan oleh syeikh pertama, “apakah kamu faham ilmu syariat?”, sang nelayan pun menjawabnya dengan menggelengkan kepala. “sungguh engkau telah kehilangan seperti tiga umurmu”, mengomantari jawaban sang nelayan. Lantas syeikh kedua pun mengambil alih pertanyaan, “apakah engkau mengerti ilmu fiqih”, untuk kedua kalinya sang nelayan menggelengkan kepala petanda bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang ilmu itu, syeikh kedua pun berkomentar sama dengan syeikh pertama, “telah sirnalah sepertiga umurmu wahai nelayan”. Syeikh ketiga pun tidak mau ketinggalan untuk mengtes sang nelayan, “apakah kamu tahu tentang ijtihad?”, sang nelayan pun menggelengkan kepala untuk ketiga kalinya. Tidak lama berselang, datanglah angin ribut menyapu dataran laut dan sampan yang ditumpangi mereka berempat, dengan ringan hati sang nelayan pun bertanya kepada ketiga syeikh itu, “apakah kalian tahu bagaimana mengapung di lautan?”, serentak mereka menjawab pertanyaan tersebut dengan “tidak”. “Selesai lah sudah episode kehidupan kalian”, jawab sang nelayan.

Petikan kisah ringan diatas memberikan pelajaran bagi kita betapa mereka para syeikh tidak bisa ‘ngemong’ perasaan seorang nelayan miskin yang boleh dikata bodoh dalam bidang agama. Mereka yang telah dianugerahi kesempurnaan ilmu seakan enggan untuk membimbing yang bodoh. Seharusnya, orang yang bisa melihat sanggup membimbing yang buta, si kaya harus mengasihi si miskin, juga sang alim harus membimbing si awam, yang hanya lewat mereka lah si awam menunggu datangnya ‘pencerahan’ dan kasih sayang, bukan malah keruwetan dalam beragama, sebagaimana firmanNya, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)”.

Sudah jamak diketahui bahwa sebagian fatwa sekarang ini lebih cenderung mengeliminir sisi rahmat dalam islam, padahal pintu Rosulullah Saw selalu terbuka bagi siapa saja termasuk kaum kafir. dalam benak mereka seakan tersimpan kekhawatiran kalau islam akan melemah ditangan kaum awam, maka “tasyadud” dalam islam pun dilegalkan sebagai solusi sementara. Kekhawatiran tersebut merupakan imbas dari “kekurangan” mereka dalam sesuatu yang seharusnya mereka miliki. Dengan mengatakan “orang awam tidak akan mengetahui…” berarti dia telah membuat sekat tebal yang memisahkan antara dirinya dan orang awam, sedangkan yang seharusnya mereka lakukan adalah bagaimana mengentaskan kaum awam itu dari lembah kebodohan. Karena sudah menjadi tugas orang yang diberi kelebihan oleh Allah untuk bisa berbagi dengan yang lain.

Lebih tragis lagi, ketika akhir-akhir ini banyak yang menghardik orang awam dengan menuduh kafir, syirik bid’ah dan lain sebagainya. Tidak seharusnya mereka di tuduh yang bukan-bukan, karena pada dasarnya mereka tidak tahu. Maka, sudah menjadi kewajiban para ulama’ untuk mengajarinya jika mereka sadar akan ke-awam-an nya dan mau berubah. Adapun orang yang tidak punya ilmu tapi sok punya kemudian menolak segala maklumat yang masuk ke dirinya dan mengingkari orang yang berilmu maka sungguh dia telah mewarisi sifat abu jahal. Walaupun demikian tidak boleh bagi kita untuk melontarkan kata-kata keji (bodoh) itu kepada orang awam karena sesugguhnya Allah Maha Mengampuni bagi orang-orang tidak tahu juga orang yang tidak mampu.

Sedangkan bagi orang yang tidak tahu dan berusaha ingin tahu maka ia disebut dengan penuntut ilmu. Nah, disinilah peran ulama’ untuk membentuk mereka, karena pada dasarnya adalah bahan mentah yang ditangan para ulama’ lah mereka menjadi barang siap pakai. Perlu di mengerti bahwa seorang penjahit tidaklah pantas disebut seorang penjahit ketika belum menciptakan suatu bentuk pakaian jadi dari bahan mentah, demikian juga ulama’, belumlah tepat disebut ulama’ sebelum mampu “membentuk” orang awam menjadi sebuah profil siap pakai.

Belum pernah kita melihat seorang tukang kayu yang acuh terhadap sepotong kayu walaupun tidak lurus, demikian juga tidak pernah kita lihat seorang tukang besi yang membuang potongan besi dikarenakan bengkok. Justru sebaliknya, seorang ahli akan merasa tertantang untuk bisa berkreasi dengan sesuatu yang orang lain tidak mampu melaksanakannya, Karena pada kondisi seperti inilah kemahiranya akan tampak lebih dominan. Orang awam di tangan para ulama’ adalah laksana bahan mentah di tangan seorang pengrajin. kebodohan orang awam di tangan ulama’ sebagaimana besi tanpa tukang besi, tidak mampu memberikan perubahan yang berarti. Hal itu juga menunjukkan betapa lemahnya pengalaman sang pengrajin dalam membuat sesuatu. Adanya kebodohan di tengah berjubelnya ulama’ sangatlah disayangkan. Seberapa pun bodohnya orang awam, kalau mereka ditinggal begitu saja tanpa ada usaha untuk memberikan pencerahan dan perubahan menunjukkan lemahnya peran para ulama’, padahal peran sentral mereka adalah mengentasakan kebodohan dalam masyarakat. Sebagaimana difirmankan Allah Swt, “…kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”.

Seperangkat peralatan kantor akan kelihatan usang ketika tidak ada usaha untuk memperbaharuinya, hal itu sama persis dengan kondisi orang awam yang masih bodoh. Namun, ketika ada usaha dari kita untuk mengecek ulang perlengkapa tersebut kemudian mengusahakan perbaruan atau up grade, maka usaha kita tersebut laksana membawa orang dari ke-awam-annya menuju ke-khusus-annya. Namun ada sebuah keanehan yang terjadi di lapangan ketika ada seorang yang mendengar sesuatu yang baru, namun seakan menolaknya mentah-mentah. Satu alasan yang mendasari penolakannya tersebut, yaitu karena dia belum pernah mendengar hal tersebut sebelumnya. Kalau di logika, bahaya apa sih yang akan di terima kalau seandainya dia mau menerima sesuatu yang sifatnya baru itu?. Sungguh seseorang yang yang tidak mau menambah ilmu dan pengetahuan adalah orang yang merugi.

Di dunia ini tidak ada ilmu pengetahuan yang hukumnya haram, walaupun tentang sesuatu yang haram. Pengetahuan kita bahwa minuman keras adalah membahayakan hati tidaklah haram, walaupun khamr sendiri adalah haram. Kalau saja orang awam tetap menjadi awam dan orang berilmu tidak bertambah, maka kekuatan masyarakat dalam hal ilmu pengetahuan pun tidak akan bertambah. Bahkan yang kita takutkan adalah ketika salah satu dari mereka yang berilmu telah meninggal maka kebijaksanaan dalam masayarakat pun akhirnya akan berbalik.

Dahulu, sebelum risalah muhammadiyah turun ke bumi, para sahabat rosul Saw adalah orang-orang awam, bahkan bisa di bilang lebih parah dari awam. Akan tetapi dengan sifat rahmatnya, beliau mengajari mereka ilmu sehingga yang dulunya awam berubah menjadi ‘alim. Nah, usaha Rosululullah Saw itu lah yang disinyalir menjadi kunci kemajuan umat islam, yaitu usaha ngemong orang awam dengan perjuangan yang gigih, pantang menyerah dan beresinambungan. Ya, tugas utama seorang alim adalah memberikan penerangan bagi yang belum berilmu, bukan meninggalkan mereka dalam kebodohan yang mengungkung. Demikian tugas kita adalah menghilangkan kegelapan dengan nasehat, hikmah dan mau’idlah hasanah.

Kalau para ulama’ tahu apa yang mudah bagi awam, maka itulah yang seharusnya mereka berikan kepada yang awam. Kalau mereka mengetahui kemudahan maka tidak akan terjadi lagi kesalahan dan kejanggalan, dan para awam pun akan semakin mengerti dengan berbagai penafsiran yang ada, sehingga kaum muslimin pun tidak lagi merasa khawatir dengan agama dan imannya.

Sesungguhnya seorang pencari ilmu atau berkah adalah berusaha mencari apa yang dititipkan Allah baik ilmu maupun berkah dari orang yang dititipinya. Tidak mungkin ada orang alim yang meyakini dirinya berilmu karena hal itu akan berakibat buruk bagi dirinya sendiri yaitu tidak menambah ilmu. Tidak layak dikatakan alim ketika dia menghujami orang-orang awam dengan berbagai tuduhan, hal ini tidak fair, karena sebenarnya mereka lah yang harus menolong orang awam, tidak menyerangnya. Seseorang yang berilmu dalam suatu bidang, sebenarnya adalah bodoh dalam bidang yang lain, dan perlu dimengerti bahwa ternyata prosentase kebodohan lebih besar dari pada kepandaiannya. Seorang alim yang tidak terpengaruh dengan sesuatu yang sifatnya duniawi, niscaya dia akan mampu mengeluarka ilmu yang juga murni sebagaimana madu alami dan susu segar. Dan racun duniawi yang terdapat di dalam jiwa ulama’ lah yang akan meracuni fatwa yang hendak ia keluarkan. Maka bagi anda para ulama’ lihatlah masyarakat dan rawatlah mereka, tidak usah khawatir agama akan tercoreng dengan keberadaa mereka, karena sesungguhnya Allah Maha Menjaga manusia dan keimanannya. Berbelas kasihan lah pada mereka, jangan gelincirkan mereka dalam kubangan fatwa yang menyulitkan, jangan beranggapan bahwa kalian adalah satu-satunya ulama’ di duni, dan terakhir ingatlah bahwa apa yang tidak kita ketahui sejatinya lebih banyak dari yang kita ketahui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s