Boleh Tidaknya Seorang Yang Sedang Haid Membaca Al-Quran

Sering sekali kita tidak menyadari dalam pergaulan sehari-hari, kita secara tidak sengaja terbawa arus lingkungan. Baik dari sikap kita terhadap orang lain maupun menentukan sebuah keputusan kita dalam berbagai hal. Seperti halnya juga fiqih pribadi kita dalam kehidupan sehari-hari. Sering kita tidak menyadari, kita mengambil langkah yang salah tapi kita anggap benar karena hal tersebut banyak yang melakukannya atau hanya sekadar feeling. Contoh konkritnya perempuan yang sedang mengalami masa haid. Seseorang yang masih dalam masa haid menurut syariat islam diharamkan memegang mushaf atau membacanya. Dan ini tidak bisa diganggu gugat. Mungkin bagi perempuan-perempuan umum yang notabene hanya sekadar bisa membaca Al-Quran tidak keberatan dan menemukan masalah dengan ketetapan ini. Berbeda lagi bagi kalangan perempuan yang dipercaya Alloh Swt untuk menjaga kalamNya, tentu menuai kesulitan dengan adanya ketetapan tersebut. Karena pada umumnya bagi seorang perempuan mempunyai masa suci hanya sepertiga bulan dalam setiap bulannya. Sedangkan bagi seorang hafidzoh harus selalu menjaga hafalannya atau bagi pemula yakni sedang masa menghafal tentu sangat sedikit sekali waktu untuk menjaga dan menambah hafalan. Sehingga banyak dari mereka terbawa dengan arus teman-temannya yang notabene kurang bisa mencerna larangan itu. Dan pada akhirnya secara tidak sengaja atau bahkan sengaja melanggar larangan dalam masa haid hanya demi bisa selalu menjaga hafalannya dan bisa selalu menambah hafalan Al-Qurannya. Dari problematika diatas penulis merasa prihatin sekali dan mencoba memberikan sebuah sinar terang untuk para pencari ridho Alloh dengan menjaga kalamNya sesuai dengan kemampuan penulis.

Pada suatu ketika penulis ditanya tentang bolehkan seorang perempuan yang sedang haid membaca atau melafalkan ayat Al-Quran sedangkan dia sedang mengahafal Al-Quran. Dan dia takut hafalannya hilang.

Untuk menjawab masalah ini mari kita lihat hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Ali Kwh Yang artinya: “ Rasulullah Saw selalu membacakan kita Al-Quran disetiap keadaan kecuali pada saat beliau dalam keadaan junub”. Hadist riwayat Tirmidzi dalam kitab Sunan Halaman 146. Dan junub masuk didalamnya orang yang sedang haid dan nifas.

Dari hadist diatas sudah jelas sekali diharamkannya membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub dan yang termasuk didalamnya yaitu haid dan nifas. Namun Imam Malik menyatakan bahwa ada perbedaan diantara junub dan haid atau nifas. Keduanya penyebab tidak diperbolehkannya solat atau membaca Al-Quran. Tetapi seseorang yang sedang junub mampu untuk segera mandi besar agar bias melakukan solat atau membaca Al-Quran. Sedangkan bagi seseorang yang sedang haid atau nifas, mereka tidak bias segera melakukan mandi besar dan harus menunggu masa haid selesai. Oleh karena itu Imam Malik mengatakan bagi seorang yang sedang haid atau nifas jika takut hafalannya hilang maka bacalah Al-Quran. Dan membaca Al-Quran pada saat seperti ini bukan tergolong untuk ibadah melainkan untuk belajar atau menjaga hafalan yang sudah dihafal. Sedangkan untuk para pemula menghafal Al-Quran tidak boleh.

Wallohua’lam bissowab.

Referensi: al-Kalam at-Tayyib Fatawa ‘Asriyyah. Dr. Ali Jum’ah. Dar al-Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s