Adinda Seandainya Engkau….

Entahlah harus kuawali darimana curhatan ini. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang mesti diperbuat ketika adinda meluapkan amarah. Haruskah aku lari sedemikian kencang hingga tak ada lagi arah, asa, luka dan nestapa. Atau aku terus mendesakmu sambil bersujud menelan kegetiran atas kekhilafan sendiri yang tak disengaja. Lalu kuakui segala kesalahan dengan semena-mena dan penuh rasa khidmat; tanpa bantahan dan penolakan. Selanjutnya, aku tertunduk syahdu di bawah kesucian telapak kaki dinda yang kelak akan menjadi pe-tamanan kota Surgawi.

Kini, aku kembali terperosok ke dalam lobang hitam yang mencekam. Sepi, senyap dan hening. Muara cahaya yang kemaren terang benderang akhirnya berhujan kepingan silet yang membalut tubuhku dengan darah. Memang, aku tiada berharga. Tapi percayalah aku senantiasa memikirkanmu sebelum taburan cahaya pagi menyelimutimu, dan mencintaimu sebelum mentari di ufuk Barat menjingga.    

Untukmu, dinda, aku rela kehilangan semuanya. Untukmu aku tak mempedulikan siapa gerangan diriku. Untukmu akan kuluangkan segala waktu yang aku punya. Dan aku masih tetap menerima tindakanmu kepadaku. Meski itu menancapkan rasa pedih di batinku. Ah,, mungkin adinda belum tahu tentang keadaanku; saat mereka menertawaiku, saat pekerjaanku mendadak hilang, saat omelan mendapratku dan saat rasa kantuk menjelma kilatan petir yang nyaris merobohkanku. Pun aku masih menerima dan memaklumi amarahmu dengan sabar dan tabah.

Dimana-mana kesepian terus mengikutiku. Tidak di rumah, kos, masjid, kampus maupun di tepian jalan. Aku merasa terbuang dan tersisihkan dari gelak tawa yang mampu membenamkan sejuta kepedihan. Jauh dari tembang-tembang kehidupan yang menghibur tiap jiwa-jiwa yang murung. Patutkah aku membisu laksana bebatuan karang yang tertindih di wajah lautan? Aku tetap sepi, sesepi pulau tak bertuan.

Dinda, mungkin cintamu telah mengajarkanku untuk terus bersedih. Namun, semenjak kata purba berbentuk, aku telah memesanmu untuk menabuh genderang tangis dengan keras di depan wujudku. Kadang sesekali kau mainkan seruling kebahagiaan hanya untuk memberhentikan isak tangis lantas mengalihkan perhatianku. Akan tetapi, kau tetap saja torehkan senandung lirih. Rupanya, cintamu benar2 telah mengajarkanku agar senantiasa bersedih. Bersedih untuk memperoleh kebahagiaan abadi.

Pernah suatu ketika saya diabaikan bahkan ditampik olehmu. Namun, aku berusaha memahamimu lebih mendalam. Mungkin, kau sedang dilanda keraguan hingga harus menelantarkanku begitu saja. Ketika adinda lebih memilih orang lain aku tetap setia sambil memboikot raungan kesedihan yang muncul disana-sini. Aku selalu berharap agar dinda memahami makna dari kata cinta. Dan saya sadar bahwa saya bukanlah apa-apa. Saya tak lebih dari seorang sahabat yang merindukanmu dalam mimpi-mimpi kosong. Betapa saya menginginkanmu, namun ruang kesempatan lagi-lagi terkunci. Tak pelak saya pun terkurung diantara sel-sel yang membuatku penat dan semakin sesak.

Maksud hati hendak senantiasa ada untukmu namun batas kesalahpahaman terus menjulang tinggi. Aku dijatuhkannya hingga terpental jauh seraya mencabak-cabik batinku. Dinda, kenapa kesalahpahaman masih tumbuh dengan subur di sekeliling kita. Bukankah kita sudah membakarnya bersama-sama dalam tungku api Neraka sana?.  

Sulit sekali bagiku untuk meyakinkanmu bahwa aku benar-benar mencintaimu. Seribu cara telah diterapkan namun adinda tetap menampakkan wajah-wajah semu yang sukar ditebak. Hari ini adinda ucapkan sayang tapi besok kata itu kembali membelit usus-ususku yang mulai rapuh. Oh, lagi-lagi rasa itu mengobrak-abrik jantungku. Aku menggelepar dan sekarat.

Ku ungkapkan disini bahwa sebenarnya aku tidaklah sedemikian berani sebagaimana ungkapan kata yang biasa kueja. Aku adalah laki-laki yang mungkin saja akan gugup saat memandang wajahmu terlalu lama. Lantas mukaku akan pucat ketika hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan kau besutkan kelak. Mungkin peluh akan bercucuran saat kau menatap bola mataku yang kian rabun. Tapi percayalah bahwa asal mula adalah kata. Di balik itu (kata) hanya sebatas ruang kosong dan angin pagi. Karena itu, aku bersembunyi dibelakang gugusan kata dan menenggelamkan diri tanpa sisa. Semua itu kulakukan agar aku lebih berani menerjemahkan suara batinku kepadamu, dinda.

Esok, aku akan menjumpaimu bersama angin kelam atau riang. Aku akan memastikan bahwa selama ini aku menggilaimu lebih dari apa yang pernah dilalui oleh lekukan sejarah. Jika perlu, akan kuperam krakatau kedalam sukmaku lalu kubuat peta bumi baru dengan pisaumu agar jarak antara kita tak lagi menjauh. Aku ingin lebih dekat mengenalmu sedekat pemahaman Muhammad akan Tuhannya. Andaikata mencintai angin harus menjadi siut, mencintai air harus menjadi ricik, mencintai gunung harus menjadi terjal, mencintai api harus menjadi jilat, mencintai cakrawala harus menebas jarak, mencintai Tuhan harus menjelma aku, maka untuk mencintaimu aku harus meniadakan dan membunuh aku.

Wassalam,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s