Demokrasi Agama ; Menuju civil society


<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:”MS Mincho”;
panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;
mso-font-alt:”MS 明朝”;
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
@font-face
{font-family:”\@MS Mincho”;
panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:””;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText
{mso-style-noshow:yes;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
span.MsoFootnoteReference
{mso-style-noshow:yes;
vertical-align:super;}
p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText
{mso-style-noshow:yes;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
p.MsoPlainText, li.MsoPlainText, div.MsoPlainText
{margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Courier New”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;}
/* Page Definitions */
@page
{mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs;
mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs;
mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es;
mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

<!–
/* Font Definitions */
@font-face
{font-family:”MS Mincho”;
panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4;
mso-font-alt:”MS 明朝”;
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
@font-face
{font-family:”\@MS Mincho”;
panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
mso-font-charset:128;
mso-generic-font-family:roman;
mso-font-format:other;
mso-font-pitch:fixed;
mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:””;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText
{mso-style-noshow:yes;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
span.MsoFootnoteReference
{mso-style-noshow:yes;
vertical-align:super;}
p.MsoEndnoteText, li.MsoEndnoteText, div.MsoEndnoteText
{mso-style-noshow:yes;
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-language:AR-EG;}
p.MsoPlainText, li.MsoPlainText, div.MsoPlainText
{margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Courier New”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;}
/* Page Definitions */
@page
{mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fs;
mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) fcs;
mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) es;
mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm”) ecs;}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Dalam menjalani bahtera kehidupan ini komunitas manusia membutuhkan suatu sistem pemerintahan yang dapat mengatur mereka demi mencapai kabahagian bersama. Dengan demikian maka akan terbentuk negara demi mewujudkan harapan mereka..
Menurut Roger H. Soltau: “Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat” (The state is agency or authority managing and controlling these (common) affairs on behalf of and in the name of the community).
Setiap manusia menginginkan suatu nagara yang makmur, maju dan memberikan keamanan kepada setiap warga negaranya. Dunia perpolitikan makin meluas, berbagai sistem pemerintahan telah diterapkan dalam jangka kurun waktu yang amat panjang. Pergantian sistem pemerintahan terus terjadi, pencarian sistem yang tepat untuk wilayah tertentu terus diadakan.
Demokrasi merupakan salah satu sistem pemerintahan yang banyak menyedot perhatian para negarawan. Tak heran banyak negara-negara maju berkiblat padanya. Indikasinya adalah dengan munculnya negara-negara maju di Barat yang telah menggunakan sistem tersebut.
Permasalahannya sekarang adalah  apakah demokrasi itu layak pakai di negara-negara yang mayoritas masyarakatnya muslim? Bagaimanakah politik dalam perspektif Islam? Haruskah kita sebagai umat Islam membentuk negara Islam? Apakah demokrasi selaras dengan ajaran Islam? Dalam artikel ini saya berusaha menguraikannya secara eksplisit.
Pengertian Politik dan Demokrasi
Berbicara mengenai politik berarti berbicara mengenai sistem pemerintahan, begitu pun sebaliknya, keduanya bagaikan mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, karena definisi politik itu sendiri adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan dalam hal ini adalah sistem pemerintahan atau dasar pemerintahan.[1]
Demokrasi merupakan salah satu sistem pemerintahan yang lagi “dipuja” oleh banyak negara, karena ia diyakini banyak orang sebagai system pemerintahan ideal saat ini. Oleh karenanya tak heran banyak negara-negara di dunia ini yang memakai sistem pemerintahan itu.
Demokrasi adalah (bentuk atau sistem) pemerintahan yang segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat. Atau sering didefinisikan sebagai sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi juga berarti : gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.[2]
Intinya dalam negara demokrasi seluruh rakyat diharapkan mendapatkan hak-hak yang sama dan tak ada tindakan diskriminatif terhadap kelompok atau golongan tertentu, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Demokrasi mulai berkembang pada abad ke tujuh belas dan delapan belas Masehi. Kehadirannya sebagai respon atas tindakan absolutisme raja-raja dan kaum feodal saat itu. Perbedaan perlakuan antara kelas atas (penguasa) dan kelas bawah (rakyat sipil), ketidakadilan, perlakuan yang sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, membuat masyarakat Eropa  menghendaki adanya persamaan derajat, penegakan keadilan, kebebasan berekspresi dan berpendapat serta  perlakuan sama dihadapan hukum tanpa pilih kasih.
Puncaknya, meletuslah revolusi Prancis pada abad ke 18. Dengan demikian maka ortodoksi gereja yang dikooptasi para raja semakin lama semakin melemah, sampai pada akhirnya terwujud tatanan negara demokratis yang dapat menciptakan masyarakat madani di Eropa kala itu.
Sejarah perjalanan demokrasi dalam perkembangan Islam
Manusia yang telah “dianugrahi” aqal dan nafsu dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di Bumi ini dengan misi menjaga bumi dari kerusakan yang dahsyat. Tentu untuk menjadi balance antara ke dua kekuatan yang dimiliki manusia tersebut Agama adalah jawabannya.
Oleh karennya Allah mengutus rasul-rasul-Nya guna menyebarkan ajara-ajaran yang dapat menjadi pelita manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Islam merupakan penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya. Dengan berpedoman pada Al- Qur’an dan As Sunnah maka Islam mempu menjawab tantangan zaman semenjak kemunculannya, zaman ini hingga yang akan datang.[3]
Islam muncul menjadi “juru penyelamat” dunia dengan misi “rahmatan Lil Alamien” oleh karenanya setiap ajaran Islam memiliki nilai kebenaran yang tidak diragukan lagi.
Relasi agama dan negara (politik) memang selalu menarik untuk dikaji dan dibahas. Agama mengandung sejumlah moralitas yang dapat menjadi landasan epistemologis guna membangun civil society. Demikian halnya dengan politik yang merupakan wadah penyalur aspirasi rakyat guna menyampaikan nilai-nilai demokarasi dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demokrasi yang saat ini diagung-agungkan oleh negara-negara barat, bahkan menjadi andalan yang “ditularkan” di negara-negara timur tidak terelakkan, karena keberadaannya merupakan suatu anugrah yang dapat merubah nasib orang-orang Eropa semenjak “masa kegelapan” yang terjadi di Eropa.
Padahal elemen-elemen demokrasi itu sebenarnya telah ada sejak masa perkembangan Islam. Fenomena ini nampak dari sikap adil, musyawarah, kebebasan berekspresi, persamaan dan penegakan hukum tanpa pilih kasih serta perlindungan hak-hak warga yang telah diteladankan oleh nabi Muhammad Saw, dan hal itu dilestarikan oleh para sahabat yang menjadi khalifah setelah beliau wafat.
Begitu pun halnya pemilihan khulafarasyidin yang tidak menganut sistem turun temurun juga bisa menjadi bukti nyata adanya pemerintahan demokrasi kala itu. Padahal negara-negara di dunia saat itu banyak yang menggunakan sistem monarchi.
Sistem suksesi khalifah pertama, Abu Bakar yang melalui pemilihan langsung dari rakyat secara lonjong di kediaman bani Sai’dah[4] kemudian berlanjut pada khalifah kedua, Umar bin Khathab yang terpilih berdasarkan “waliy al-‘ahdi”[5], setelah wafatnya Umar bin Khathab maka kekuasaan berikutnya dilanjutkan oleh khalifah ke tiga yaitu Usman ibn Affan yang terpilih bukan berdasarkan nepotisme akan tetapi beliau terpilih melalui proses tim formatur yang jujur dan adil bentukan  khalifah Umar bin Khathab.[6] Sedangkan khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib terpilih melalui proses pemilihan secara langsung dari rakyat kala itu.[7]
Dengan demikian jelas elemen demokrasi telah ada sejak14 abad silam seiring dengan munculnya Islam sebagai penyelamat manusia dengan misi “rahmatan lil alamien”.
Relevansi Demokrasi dan Agama
Demokrasi  sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan, dan persamaan hak di depan hukum tanpa pandang bulu.
Jika dilihat dari basis empiriknya agama dan demokrasi memang memiliki perbedaan. Agama berasal dari wahyu Tuhan yang disebarkan lewat para utusan-Nya dan disyiarkan kepada umat manusia, sedangkan demokrasi itu sendiri berasal dari pola pikir manusia.
Meskipun agama memiliki perbedaaan dengan demokrasi akan tetapi tidak ada alasan melarang agama untuk berdampingan dengan demokrasi, karena demokrasi dan agama memiliki misi yang sama yaitu menciptakan kehidupan yang makmur dan layak bagi umat manusia.
Dalam perspektif Islam, elemen-elemen demokrasi meliputi kebebasan (al-hurriyyah), musyawarah (al-syura), keadilan (al-‘adalah) dan persamaan derajat (al-masawah)
Pertama, kebebasan (al-hurriyah) artinya, setiap orang memiliki hak dan kebebasan untuk mengekspresikan pendapatnya. Sepanjang itu masih dalam karidor “kewajaran” yang dilakukan dengan cara baik dan bijak dalam rangka menegakkan amal ma’ruf nahi mungkar (baca: elemen dakwah Islamiyah)
Hal itu amat penting sekali untuk diterapkan ditengah-tengah warga negara, dengan fungsi sebagai “kritik dan kontrol sosial”. Yang berbahaya adalah jika kebebasan itu dibelenggu oleh para penguasa atau orang-orang “kuat” maka tindakan diskriminatif, penindasan, ketidakadilan akan semakin merajalela dan yang menjadi korban adalah masyarakat lemah.
Kedua, musyawarah (asyura) merupakan suatu sistem pengambilan keputusan yang berpedoman pada “suara bersama” dalam artian melibatkan beberapa orang dalam mengambil keputusan bagi kepentingan bersama. Dalam hal ini Allah menegaskan secara eksplisit dalam al-Qur’an. Allah berfirman : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.[8] dalam ayat lain Allah berfirman : Dan (bagi) orang-orang yang mematuhi seruan tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan ) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rizeki yang kami berikan kepada mereka.[9] Oleh karenanya musyawarah merupakan sesuatu yang harus dilakukan untuk mengambil keputusan tak ada seorang pun yang boleh meninggalkannya.[10]
Tindakan bermusyawarah juga merupakan bentuk pemberian penghargaan terhadap orang lain karena mereka dapat berpartisipasi dalam memutuskan suatu keputusan, sehingga mereka akan lebih bergairah dalam melaksanakan keputusan tersebut.
Dalam praktik kehidupan umat Islam di masa awal perkembangan Islam, lembaga yang dikenal sebagai pelaksana musyawarah saat itu  adalah ahl halli wa-l’aqdi. Lembaga ini menyerupai tim formatur yang bertugas memilih para khalifah.
Ketiga, keadilan (Al-‘adalah) artinya dalam penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan bijaksana, tanpa pilih kasih dan pandang bulu, tidak ada unsur kolusi dan nepotisme, setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama, meskipun terdapat perbedaan fisik, keyakinan, bahasa, aqidah (theology), budaya atau pun status sosial lainnya. Karena urgennya keadilan bagi kehidupan manusia Allah berfirman dalam Al- Qur’ an yang berbunyi: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.[11] dalam ayat lain Allah pun berfirman : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah , menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.[12] Begitupun Allah berfirman dalam surah An-Nisaa’ ayat 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berkah menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Keempat, Persamaan derajat, egalitarian ( al-Masawah) Artinya, tidak ada pihak yang merasa lebih mulia dan tinggi dari pada yang lain sehingga bertindak sesuka hatinya dan memaksakan kehendaknya.
Penguasa memiliki “derajat” sama dengan rakyat jelata, oleh karenanya penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap rakyat, penguasa tidak boleh berlaku otoriter dan mementingkan diri sendiri yang buntutnya adalah penindasan terhadap rakyat. Persamaan derajat ini penting dalam suatu pemerintahan demi menghindari hegemoni penguasa atas rakyat.[13]
Allah berfirman: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.[14]
Jika suatu Negara konsisten dengan penegakan prinsip-prinsip demokrasi di atas yang amat relevan dengan ajaran Islam tersebut dan merupakan “tata krama” berpolitik dalam bingkai ajaran nabi Muhammad maka pemerintah akan mendapatkan legitimasi dari rakyat. Dus dengan demikian roda pemerintahan akan berjalan dengan setabil, sehingga terciptalah masyarakat madani.
Demokrasi; idealkah untuk diterapkan di Indonesia?…..
Demokrasi berpijak pada landasan epistemologis kesepakatan-kesepakatan bersama demi kepentingan bersama ( membangun kesalehan sosial ), menuju terciptanya kesejahteraan dan ketentraman setiap orang ( kesalehan individu ). Pada titik inilah hukum sosial berlaku guna melindungi hak-hak individu masyarakat yang dibangun secara trasparan dan rasional sebagai kontrol sosial. Sehingga setiap orang bisa mendapatkan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang adil.
Demokrasi sebagai sistem bernegara tidak bisa kita pungkiri kebenarannya. Apa lagi untuk bersikap “acuh tak acuk’ terhadap fenomena tersebut. Tinggal kita memilah dan memilih demokrasi bagaimana yang hendak kita terapkan, khususnya di Indonesia.
Demokrasi yang berkembang di suatu wilayah tentu memiliki perbedaan dengan demokrasi yang diterapkan di wilayah lain. Hal itu terjadi karena demokrasi mengalami proses “pribumisasi” atau kontekstualisasi. Dengan cara itu demokrasi disesuaikan dengan struktur budaya masyarakat setempat, sehingga memungkinkan terciptanya proses akomodasi atau adaptasi timbal balik.
Jelas pelaksanaan dan perkembangan sistem Demokrasi dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh budaya di wilayah tersebut. Lantas demokrasi bagaimana yang ideal diterapkan di negara-negara muslim khususnya Indonesia?
Menurut hemat saya kita tidak membutuhkan negara Islam ataupun sekular yang terlalu over action memusuhi agama, akan tetapi yang kita butuhkan adalah suatu ideologi yang tidak menyatukan antara agama dan negara, tetapi tidak juga memisahkannya, sehingga keduanya dapat selaras dan berjalan beriringan tanpa ada pertentangan. Fenomena ideologi ini dikenal oleh tokoh liberal Iran Abd Karim Soroush yang disebut sebagai “Demokrasi agama”.
Dengan menerapkan demokrasi agama (baca: Islam) di negara-negara muslim maka akan terbentuk negara Islami, dalam artian kebijakan-kebijakan pemerintah selaras dengan syariat Islam dan tetap berpedoman pada kebebasan (al-hurriyyah), musyawarah (al-syura), keadilan (al-‘adalah) persamaan derajat (al-masawah) sehingga perlakuan diskriminatif di tengah-tengah warga negara dapat dihindari, jika itu terjadi maka akan terbentuk civil society yang diharapkan setiap warga negara.
Penutup.
Jika demokrasi dapat sejalan dengan ajaran-ajaran Islam, maka demokrasi layak untuk menjadi sistem pemerintahan negara muslim. Oleh karenanya membentuk negara yang demokratis menjadi sebuah keharusan bagi negara-negara muslim saat ini. Allahu’alamu wissawab.

[1] Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. hal. 780.
[2]  Ibid, hal 220
[3]  lihat Muhammad Abdulbasir Khadiri, Muqaddimah fi An Nudzum Al Islamiyah, 2003, hlm. 91.
[4] Muahammad Said Ramadhan, Figh Sirah An-Nabawiyah, hal.351.
[5] Ibid, hal. 353.
[6] Ibid, hal. 360.
[7] Ibid, hal. 368.
[8]   QS. Al- Imran ayat 159
[9]   QS. Asy- Syuura ayat 38
[10]  Farid Abdulkhalik, Fi Al- Fiqh As- Siasi  Al- Islami Mabadiu Ad- Dusturiyah. As-Syura, Al-‘Adl, Al-Musawah, Dar As- Syuruk, Kairo, 1998, hlm.39.
[11]  QS. An-Nahl ayat 90.
[12]  QS Al- Maaidah ayat 8.
[13]  Lihat  Farid Abdulkhalik, Fi Al- Fiqh As- Siasi  Al- Islami Mabadiu Ad- Dusturiyah. As-Syura, Al-‘Adl, Al-Musawah, Dar As- Syuruk, Kairo, 1998, hlm.213.
[14]  QS. Al- Hujarat ayat 13.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s