Mengeluarkan Zakat Harta dalam Bentuk Hidangan Buka Puasa dan Hukum Memberikan Kafarat dalam Bentuk Makanan yang telah Dimasak

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:””;
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
text-align:right;
mso-pagination:widow-orphan;
direction:rtl;
unicode-bidi:embed;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;}
@page Section1
{size:595.3pt 841.9pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:35.4pt;
mso-footer-margin:35.4pt;
mso-paper-source:0;
mso-gutter-direction:rtl;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Apa hukum mengeluarkan zakat harta dalam bentuk makanan buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa? Dan apakah pembayaran kafarat dapat dilakukan dengan memberikan makanan yang telah dimasak ataukah harus yang belum dimasak (makanan mentah)?

Jawaban
Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
Syariat Islam memberikan berbagai cara bagi umat Islam untuk melakukan infak. Islam juga sangat menganjurkan kegiatan takaful (solidaritas sosial), saling membantu dalam kebaikan, oleh karena itu Islam mewajibkan zakat sebagai salah satu pondasi agama, juga menganjurkan sumbangan, memberi hadiah dan bersedekah yang salah satu bentuknya adalah sedekah jariyah seperti wakaf yang manfaatnya terus mengalir. Semua bentuk berinfak itu disyariatkan agar dapat mencakup semua bentuk kebaikan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, 
إِنَّ فِيْ الْمَالِ لَحَقًّا سِوَى الزَّكَاةِ
Sesungguhnya dalam harta terdapat hak selain zakat.”

    Lalu beliau membaca ayat,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177). (HR. Tirmidzi dan yang lainnya).
    Hadis ini meskipun mengandung kelemahan, namun makna yang dikandungnya telah dinukil secara shahih dari para salaf saleh seperti Ibnu Umar, asy-Say’bi, Mujahid dan Thawus rahimahullahumullah.
    Dalam kitab ‘Umdat al-Qârî, Imam al-‘Aini berkata, “Sufyan bin ‘Uyainah menggunakan sebuah ayat sebagai dalil memberikan bantuan dalam keadaan lapang, yaitu ayat:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111).
    Maksud ayat ini adalah bahwa kaum mukminin harus mempersembahkan hartanya kepada Allah jika diperlukan. Oleh karena itulah, banyak ulama mengatakan bahwa dalam harta terdapat hak selain zakat. Hal ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Nabi saw..”
    Allah telah memberi sifat orang-orang yang baik sebagai orang yang suka memberi makan. Allah berfirman,
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insân: 8).
    Pemberian makan ini mencakup bulan Ramadhan dan waktu-waktu lainnya, hanya saja bersedekah makanan ketika Ramadhan lebih besar pahalanya. Nabi saw. menganjurkan untuk memberi hidangan buka bagi orang yang berpuasa. Beliau menjelaskan bahwa barang siapa yang memberi hidangan buka puasa maka ia akan mendapatkan pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. Rasulullah saw. bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
Barang siapa yang memberi hidangan buka bagi orang yang berpuasa maka ia akan mendapatkan seperti pahalanya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadis hasan shahih.”).
    Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda mengenai bulan Ramadhan,
مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُعْطِي تَعَالَى هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شُرْبَةٍ مِنَ مَّاءٍ، وَمَنْ أَشْبَعَ صَاِئماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شُرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang memberi hidangan buka bagi orang yang berpuasa maka itu akan menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, pembebasan jiwanya dari neraka dan ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi dari pahalanya sedikit pun.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua orang dari kami dapat memberi hidangan buka bagi orang yang berpuasa.” Beliau lalu menjawab, “Allah SWT juga memberi pahala itu untuk orang yang memberi hidangan berbuka kepada orang yang berpuasa dengan susu yang dicampur air, sebiji kurma dan seteguk air. Barang siapa yang mengenyangkan orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku sehingga dia tidak akan haus lagi hingga masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah dari hadis Salman al-Farisi r.a.).
    Memberi hidangan buka bagi orang yang berpuasa –seperti yang biasa dilakukan orang-orang di Mesir dengan nama Mâidah ar-Rahmân— meskipun merupakan sebuah fenomena indah yang menampakkan sisi solidaritas sosial dan tolong menolong, namun karena yang menikmatinya bukan hanya orang miskin, melainkan orang kaya juga, maka tidak boleh menggunakan uang zakat untuk melakukannya. Hal itu karena Allah SWT telah menentukan golongan-golongan yang berhak menerima zakat (ashnaf zakat) dalam firman-Nya,
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 60).
    Golongan pertama dari orang-orang yang berhak menerima zakat ini adalah orang-orang fakir dan miskin. Hal itu guna menunjukkan lebih berhaknya mereka dalam menerima zakat, dan bahwa dalam hukum asal disyariatkannya zakat adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kehidupan mereka. Oleh karena itulah, Nabi saw. menyebutkan tujuan itu secara khusus dalam hadis Mu’adz bin Jabal r.a. ketika beliau dikirim ke Yaman,
فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَاءِهِمْ
Jika mereka menaatimu maka beritahulah mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin mereka.” (Muttafaq Alaih).
    Dalam ayat yang menjelaskan golongan-golongan penerima zakat di atas, Allah SWT menggunakan huruf lâm –yang mengandung makna kepemilikan– yang diletakkan pada golongan penerima itu. Oleh karena itulah, jumhur ulama mewajibkan adanya pemberian hak kepemilikan itu kepada para penerima zakat sehingga mereka dapat menggunakan zakat itu untuk menutupi kebutuhan mereka yang lebih mereka ketahui. Sebagian ulama memang membolehkan seseorang memberikan zakat dalam bentuk barang jika hal itu benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
     Dengan demikian, maka dana untuk pembuatan hidangan buka bagi orang-orang yang berpuasa harus berasal dari uang sedekah, bukan uang zakat, kecuali jika orang yang membuat hidangan buka itu mensyaratkan bahwa tidak boleh makan hidangan buka puasa itu kecuali orang miskin, orang-orang yang membutuhkan dan musafir yang kehabisan bekal. Dalam keadaan ini dibolehkan menggunakan uang zakat untuk membuat hidangan buka puasa. Ketika menghidangkan makanan buka puasa itu, pemilik hidangan secara tidak langsung telah memberikan hak kepemilikan makanan itu kepada orang-orang fakir miskin yang menerima dan menyantap hidangan itu. Hal ini sebagaimana dinukilkan dari Imam Abu Yusuf, salah seorang ulama Madzhab Hanafi dan para ulama mazhab Zaidiyah.
     Adapun bingkisan Ramadhan yang pada umumnya selalu diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan, maka dibolehkan menggunakan uang zakat, karena pelimpahan hak kepemilikan terjadi dalam perbuatan ini.
    Adapun masalah pembayaran kafarat maka jumhur ulama juga menyaratkan adanya pelimpahan kepemilikan itu, sehingga tidak cukup hanya dengan membiarkan orang miskin mengambilnya. Hal itu karena pembayaran kafarat adalah kewajiban materi (harta) sehingga orang miskin yang menerimanya harus mengetahui jumlahnya. Semua ini berbeda dengan pendapat para ulama Hanafiyah yang cukup memberikan kesempatan bagi orang-orang miskin untuk menyantap makanan kafarat dengan mengundang mereka untuk menikmati hidangan itu, seperti diundang untuk makan malam, makan siang dan lain sebagainya. Para ulama Hanafiyah berpegang pada makna memberi hidangan atau makanan secara bahasa. Dalam bahasa, memberi hidangan adalah membiarkan seseorang untuk menyantapnya bukan memberikan kepemilikan makanan itu kepada mereka. Hal ini diperkuat dengan firman Allah,
Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (Al-Mâidah: 89).
    Memberi makan kepada keluarga adalah dengan membiarkan mereka menyantap makanan itu, bukan memberikan mereka hak kepemilikan makanan itu.
    Dengan demikian, maka tidak apa-apa membayar kafarat dalam bentuk hidangan yang telah dimasak berdasarkan pendapat ulama yang membolehkan hal itu. Meskipun demikian, membayarkannya dalam bentuk makanan yang masih mentah adalah lebih baik sebagai upaya menghindari perbedaan para ulama. Hal itu karena menghindari sesuatu yang menjadi perbedaan para ulama adalah disunahkan.
Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s