Tata Cara Beribadah bagi Perempuan yang Kedatangan Darah Istihadhah

Mohon penjelasan hukum darah istihadhah. Apakah seorang perempuan yang kedatangan darah ini harus melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya?

    Jawaban
Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad

Seorang perempuan memiliki empat keadaan, yaitu suci, haid, istihadhah dan yang kedatangan darah kotor.

    Perempuan dalam keadaan suci adalah perempuan yang tidak mengeluarkan darah dari kemaluannya. Perempuan yang haid adalah perempuan yang melihat darah haid dalam masa siklusnya berdasarkan syarat-syarat tertentu. Perempuan yang istihadhah adalah perempuan yang mengeluarkan darah yang tidak berbentuk darah haid setelah masa haid. Perempuan yang memiliki darah kotor adalah perempuan yang mengeluarkan darah yang bukan darah haid di awal-awal usianya, seperti perempuan yang mengeluarkan darah sebelum berusia sembilan tahun. Adapun cara membedakan antara darah haid dan darah istihadhah adalah berdasarkan kebiasaan perempuan dalam masa haid dan dengan tanda-tanda khusus yang membedakan kedua jenis darah.

    Rasulullah saw. telah menggambarkan darah haid ini dalam hadits Fatimah binti Hubaisy yang diceritakan oleh Aisyah r.a.. Rasulullah saw. bersabda kepadanya,

دَمُ الْحَيْضِ أَسْوَدٌ وَإِنَّ لَهُ رَائِحَةً، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَدَعِيْ الصَّلاَةَ، وَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّىْ

“Darah haid berwarna hitam dan ia memiliki bau. Jika demikian darah yang engkau keluarkan maka tinggalkanlah shalat, tapi jika tidak maka mandi dan shalatlah.”

    Daruquthni, Baihaqi dan Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw. bersabda,

دَمُ الْحَيْضِ أَسْوَدٌ خَاثِرٌ تَعْلُوْهُ حُمْرَةٌُ، وَدَمُ اْلاسْتِحَاضَةِ أَصْفَرٌ رَقِيْقٌ

“Darah haid hitam kental kemerah-merahan. Darah istihadhah kuning cair.”

Dalam riwayat lainnya,

دَمُ الْحَيْضِ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ أَسْوَدَ غَلِيْظاً تَعْلُوْهُ حُمْرَةٌ، وَدَمُ اْلاسْتِحَاضَةِ دَمٌ رَقِيْقٌ تَعْلُوْهُ صُفْرَةٌ

“Darah haid hanya berwarna hitam kental kemerah-merahan. Darah istihadhah darah cair kekuning-kuningan.”

    Nasa`i dan Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah secara marfu’ bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ دَمٌ أْسْوَدُ يُعْرَفُ فَأَمْسِكِيْ عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِذَا كَانَ اْلآخَرُ فَتَوَضَّئِيْ فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

“Jika darah haid maka ia adalah darah hitam yang telah dikenal, maka tinggalkanlah shalat. Jika darah lainnya maka berwudhulah karena ia adalah darah yang keluar dari pembuluh darah.”

    Ibnu Abbas berkata, “Jika seorang perempuan melihat darah rahim maka ia harus meninggalkan shalat.” Beliau juga berkata, “Demi Allah, seorang perempuan tidak akan melihat darah yang keluar setelah hari-hari haidnya kecuali seperti air cucian daging.”

    Imam Nawawi, ketika menjelaskan bahwa warna darah haid sebagai darah yang hitam, mengatakan bahwa maksudnya adalah berwarna sangat merah pekat sehingga mendekati warna hitam. Jadi maksud warna hitam dalam hadits-hadits di atas adalah bukan warna hitam murni, tapi yang dimaksud adalah darah yang sangat merah sehingga menjadi seperti hitam.

    Para ulama sepakat bahwa perempuan yang istihadhah harus melakukan wudhu setiap hendak melaksanakan shalat. Wudhu yang ia lakukan ini dapat digunakan untuk melakukan satu kali shalat fardu yang telah masuk waktunya dan shalat-shalat sunah berapapun jumlahnya. Sebagian ulama membolehkan menggunakan wudhu itu untuk mengqadha shalat-shalat fardu yang tertinggal. Ia juga boleh memegang dan membaca mushaf serta melakukan sujud tilawah dan sujud syukur. Selain itu, perempuan istihadhah harus melaksanakan puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang harus dilaksanakan dalam keadaan suci. Ibnu Jarir menyebutkan bahwa para ulama berijmak atas kebolehan membaca Alquran bagi perempuan yang istihadhah.

    Diriwayatkan bahwa Ibrahim an-Nakha’i berpendapat bahwa perempuan istihadhah tidak boleh memegang mushaf. Pendapat ini juga sesuai dengan pendapat mazhab Imam Abu Hanifah. Dalam mazhab ini juga dinyatakan bahwa perempuan istihadhah tidak boleh memegang sesuatu yang mengandung tulisan satu ayat yang utuh.

    Wudhu perempuan istihadhah menjadi batal dengan habisnya waktu shalat yang ia berwudhu untuknya. Jika ia berwudhu untuk shalat Zhuhur maka ia tidak dapat melaksanakan shalat Ashar dengan wudhu ini, tapi ia harus berwudhu kembali jika waktu shalat Ashar tiba. Habisnya waktu shalat ini merupakan salah satu hal yang membatalkan wudhu bagi perempuan istihadhah di samping hal-hal yang membatalkan wudhu lainnya.

    Kami cenderung untuk memilih pendapat yang menyatakan bahwa jika seorang perempuan yang istihadhah berwudhu untuk shalat fardu tertentu maka ia boleh melakukan semua ibadah yang dibolehkan bagi orang yang berwudhu, seperti memegang dan membaca Alquran, shalat sunah serta melaksanakan sujud tilawah dan sujud syukur.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s