SHOLAT

SHOLAT[1]
Oleh: Siti Abidah Subkiyyah[2]
1. Pendahuluan
Seperti yang yang kita ketahui bahwa ibadah yang diperintahkan ketika malam isra’ mi’raj ini adalah termasuk rukun yang ke dua dalam islam. Ibadah yang satu ini mempunyai keutamaan tersendiri dibandingkan dengan ibadah-ibadah lain. Dimana amal ibadah yang pertama kali ditimbang dalam timbangan hisab adalah sholat. Dan apabila sholat seseorang baik, maka baiklah ibadah-ibadahnya yang lain,jika buruk sholat seseorang maka buruk pula ibadah-ibadahnya yang lain, dan masih banyak lagi  keutamaan-keutamaan sholat yang lain.
Berikut ini adalah sekelumit pembahasan tentang sholat beserta beberapa fatwa ulama dalam masalah-masalah  yang berkaitan dengan sholat yang sering kita jumpai  di lingkungan sekitar kita.
2. Pengertian sholat,dalil pensyariatannya, dan hikmahnya
Sholat dalam arti bahasa berarti doa, sedangkan dalam arti istilah adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.
Dalil-dalil diperintahkannya sholat bersumber dari 3 sumber, yaitu Al-qur’an, sunnah Nabi, dan ijma’.
Adapun dalil yang bersumber dari Al-qur’an di antaranya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.
Adapun dari sunnah di antaranya:
حديث ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: بني اللإسلام على خمس شهادة أن لاإله إلا الله وأن محمدا رسولله وإقام الصلاة ……[4]
Adapun dari ijma’ para ulama telah berijma’ bahwa sholat hukumnya wajib bagi setiap muslim 5 waktu dalam sehari.
Hikmah pensyariatan sholat
Sholat adalah  kewajiban kedua setelah dua syahadat, maka dari itu sholat disyariatkan agar dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba atas segala nikmat yang tak terhitung yang telah diberikan oleh Alloh kepadanya. Sholat memiliki faidah yang sangat banyak, di antaranya sholat adalah sebagai tali penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya, jalan menuju kemenangan, ketenangan, dan keselamatan, penghapus kesalahan dan kejelekan, serta pengembalian segala urusan kepada Alloh. Dan di dalam sholat juga terdapat ketenangan dan kekuatan batin. Dimana sholat juga merupakan “madrasah akhlaqiyyah” yang mengajarkan seorang muslim tentang keutamaan amanah dan kejujuran, dan menjauhkan dari segala perbuatan jelek dan mungkar, dan sebagainya.
Begitu juga sholat jama’ah, ibadah yang pahalanya dilipat gandakan hingga dua puluh tujuh derajat ini juga mempunyai banyak sekali faidah di dalamnya. Di antara faidah terpenting yang terkandung dalam sholat berjama’ah adalah seruan persamaan kedudukan semua makhluk di depan Alloh, karena tidak ada hal yang menentukan kedudukan di hadapan Alloh kecuali dengan takwa seseorang, menunjukkan kekuatan barisan kaum muslim, dan persatuan umat islam dalam menggapai satu tujuan yang sangat mulia yaitu kemenangan dengan segala keridhoan-Nya.
3. Hukum orang yang meninggalkan sholat
Umat islam telah bersepakat bahwa sholat lima waktu hukumnya wajib bagi semua muslim yang baligh, berakal, suci dari hadas, dan tidak mempunyai penyakit gila.  Dan sholat adalah ibadah badaniyyah yang tidak dapat diganti dengan bentuk ibadah lain apapun, dan tidak sah apabila seseorang sholat untuk orang lain sebagaimana tidak boleh seseorang melaksanakan puasa untuk orang lain.
Ijma’ juga sudah memutuskan bahwa barang siapa yang mengingkari kewajiban sholat maka dia telah kafir dan murtad, karena kewajiban sholat telah ditetapkan oleh Al-qur’an, sunnah dan ijma’. Maka barang siapa yang meninggalkannya dan tidak melakukannya karena malas dan menganggap remeh maka dia telah bermaksiat dan fasik, kecuali karena ada sebab tertentu.
Dan meninggalkan sholat adalah perkara yang mewajibkan adanya hukuman bagi pelakunya, baik di akhirat maupun di dunia.
Apabila seseorang meninggalkan sholat karena malas, karena sibuk dengan urusan dunia, mengikuti hawa nafsu, dan karena menuruti bisikan setan maka ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sholat karena sebab-sebab tersebut, maka dia dihukumi fasik dan harus diberikan takzir dengan cara dipukul dengan pukulan yang keras sampai mengalirkan darah, dan diikat sampai dia mau melakukan sholat. Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i dai adalah orang fasik bukan kafir, tetapi tidak cukup baginya hanya jilid dan diikat tetapi hukumannya adalah dibunuh apabila dia terus-terusan meninggalkannya. Sedangkan menurut Imam Akhmad orang yang meninggalkan sholat dihukumi sebagai kafir dan keluar dari islam. Dan tidak ada hukuman lain baginya kecuali dibunuh dan diminta untuk bertaubat kepada Alloh atas segala perbuatannya dan kembali kepada islam dengan kembali melaksanakan kewajiban sholat. Dan masyarakatlah yang bertanggung jawab atas ini, khususnya yang mempunyai kekuasaan seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya dan seorang suami terhadap istrinya.
4.fatwa ulama tentang sebagian masalah dalam pembahasan sholat
A. Qunut dalam sholat subuh
Doa qunut dalam sholat subuh adalah perkara yang para ulama berselisih
didalam pembahasan hukumnya. Sebagian dari mereka menganggapnya sebagai sunnah, dan sebagian lagi tidak menganggapnya sebagai sunnah. Diriwayatkan bahwa Nabi qunut dalam sholat Subuhnya tetapi waktu itu adalah waktu dimana para muslimin sedang tertindas oleh kaum musyrikin dan Nabi berdoa atas mereka untuk para muslimin yang tertindas. Dan qunut itu bersifat sementara karena sebab penindasan yang dilakukan kaum musyrik terhadap kaum muslimin tersebut, karena disyariatkan apabila terjadi suatu musibah maka disunnahkan untuk berdoa pada sholat-sholat fardu, dan memohon kepada Alloh agar membebaskan segala kejelekan dari kaum muslimin seperti yang dilakukan Rosululloh dan para ulama. Dan Syafi’iyyah berpendapat bahwa qunut adalah sunnah Rosul yang dilakukan pada sholat subuh secara terus-menerus. Tetapi masalah ini adalah masalah yang diperbolehkan untuk ini dan itu, dan semuanya mempunyai dalilnya maing-masing.   Maka apabila seorang muslim tidak melakukannya maka tidak ada apapun baginya.
Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i ketika datang di Baghdad beliau tidak qunut dalam sholat subuhnya untuk penghormatan kepada pengikut madzhab Abu Hanifah. Hal ini menunjukkan adanya keluasan dalam masalah ini dan tidak sepantasnya bagi kita untuk terlalu fanatik dan berlarut-larut di dalamnya.
B. Hukum basmalah dalam sholat
Membaca basmalah adalah termasuk dari rukun yang utama dalam sholat. Ada sebagian yang mengatakan bahwa basmalah termasuk dari ayat surat Al-fatihah, dan ada juga yang mengatakan bahwa basmalah tidak termasuk dalam suarat Al-fatihah. Kemudian apakah ketika kita ingin membaca sebuah ayat Al-qur’an kita harus membaca basmalah terlebih dahulu?
Telah datang dalam Al-qur’an bahwa barang siapa ingin membaca Al-qur’an maka mohonlah prlindungan kepada Alloh, tetapi yang terpenting dalam surat Al-fatihah di dalam sholat apakah kita harus membaca basmalah terlebih dahulu atau boleh saja tidak membaca basmalah? Jumhur ulama mengatakan bahwa basmalah adalah sebagian dari ayat surat Al-fatihah, dan barang siapa yang tidak membacanya maka batal sholatnya. Tetapi Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa basmalah bukan termasuk surat Al-fatihah, maka apabila seseorang tidak membacanya dalam sholat maka sholatnya tetap sah, dan apabila ada perbedaan antar mujtahidin dalam suatu hukum fiqih maka kita tidak boleh terlalu fanatik pada salah satu pendapat.
5. Penutup
Mungkin inilah sekelumit pembahasan tentang sholat beserta beberapa fatwa ulama dalam masalah khilafiyyah pembahasan sholat. Besar harapan penulis semoga tulisan yang tak berarti ini memberikan manfaat bagi pribadi penulis dan juga teman-teman semuanya.
Maka dari itu sekiranya sangat perlu bagi kita untuk mengkaji lebih dalam permasalahan ibadah yang satu ini agar sekiranya kita bisa semaksimal mungkin bisa melakukannya dengan cara-caranya yang sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Alloh kepada kita, sehingga kita bisa memetik buah-buah yang terkandung di dalamnya,amin ya Robbal Alamin.
Daftar Pustaka
·                     Dr. ali jum’ah.2009.fatawa al-bait al-muslim.kairo.Dar Al-imam As-syatibi
·                     Dr. Yusuf Qordhowi.2009.fatawa mu’ashiroh.kairo.Dar al-qolam
·                     Dr. Wahbah Zuhaili.2008.Al-fiqhu Al-islami Wa Adillatuhu.Beirut.Dar al-fikr

[1]Makalah ditulis pada acara Kajian Reguler Keputrian KSW tanggal 3 November 2010-11-01
[2]Mahasiswi fakultas Ushuluddin tingkat III Tafsir
[3]Q.S. Al-bayyinah:5
[4]Muttafaq alaih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s