Menyempurnakan Puasa dengan Zakat Fitrhah ( Baik dengan Makanan ataupun Uang)

Oleh: Muhammad Syukron at-Toha
Dengan sebongkah asa dan usaha kuat mendapat malam seribu bulan sebagai bekal di hari yang fitri, tentu waktu kita akan tertuju pada arah ini saja.  Dan sangat mungkin melupakan hal lain, tak terkecuali masalah zakat. Padahal zakat fitrhah adalah perkara wajib. Oleh karena itu, walau sesibuk apapun kita dalam menyambut hari yang fitri jangan samapi lupa diri tentang hal satu ini. Ngomong-ngomong soal zakat fitrhah, tentu banyak yang tahu apa itu zakat fitrhah. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada segelintir atau bahkan satu golang yang benar-benar tidak tahu sama sekali apa itu zakat fitrhah. Dan hanya ikut-ikutan saja membayar zakat fitrhah, dengan dalil kata pak kyai. Dari situlah keprihatinan ini muncul, dan ingin sedikit berbagi ilmu kepada mereka yang belum tahu tentang zakat fitrhah. Bagi yang sudah tahu, silahkan menyimak, bila perlu menambahi jika menemukan ada kekurangan pada pemaparan saya nanti. Apalagi ada sebuah pisau kritikan membangun, akan sangat bahagia sekali dan lapang hati saya menerimanya.
Baiklah, tanpa panjang lebar saya akan mulai dengan definisi zakat fitrhah itu sendiri. Zakat fitrhah adalah zakat diri, keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya, yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim (baik yang berpuasa maupun tidak, sehat maupun sakit, yang menetap maupun yang bepergian, orang dewasa maupun anak kecil, yang merdeka ataupun budak, aqil baligh maupun tidak dan sebagainya), yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata Fitrhah yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrhah. Berikut adalah syarat yang menyebabkan individu wajib membayar zakat fitrhah:
  • Individu yang mempunyai kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya.
  • Anak yang lahir sebelum matahari jatuh pada akhir bulan Ramadhan dan hidup selepas terbenam matahari.
  • Memeluk Islam sebelum terbenam matahari pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam Islamnya.
  • -Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.
Dalil Diwajibkannya Zakat Fitrhah
ما روى عن ابن عمر – رضي الله عنهما – قال: ( فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – زكاة الفطر صاعاً من تمر ، أو صاعاً من شعير ، على العبد والحر ، والذكر والأنثى ، والصغير والكبير من المسلمين، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة ) متفق عليه واللفظ للبخاري .
وما أخرجه أبو داود, وابن ماجه, والدارقطنى  عن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال : ” فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو والرفث ، وطعمة للمساكين ، من أداها قبل الصلاة ، فهي زكاة مقبولة ، ومن أداها بعد الصلاة ، فهي صدقة من الصدقات “.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fithrah dari bulan Ramadan satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. atas seorang hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslilmin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia keluar untuk salat ‘ied. (Hadits mutafaq ‘alaih dan lafadznya dari Bukhari)
Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata : Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari perkataan keji dan untuk memberi makan orang miskin. Barang siapa yang mengeluarkannya sebelum salat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang siapa yang mengeluarkannya sesudah salat ‘ied, maka itu berarti shadaqah seperti shadaqah biasa (bukan zakat fithrah). (H.R : Abu Daud, Ibnu Majah dan Daaruquthni).
Besarnya Zakat Fitrhah
Besar zakat yang dikeluarkan menurut para ulama adalah sesuai penafsiran terhadap hadits adalah sebesar satu sha’ (1 sha’=4 mud, 1 mud=675 gr) atau kira-kira setara dengan 3,5 liter atau 2.7 kg makanan pokok (tepung, kurma, gandum, aqith) atau yang biasa dikonsumsi di daerah bersangkutan (Mazhab syafi’i dan Maliki). Boleh lebih dan tidak boleh kurang.
Siapa yang Berhak Menerima Zakat Fitrhah?
قوله تعالى: {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ}.
Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Surat at-Taubah: 60.
Dari ayat ini dijelaskan bahwa penerima zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan/asnaf (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil). Namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrhah sebaiknya didahulukan kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin. Pendapat ini disandarkan dengan alasan bahwa jumlah/nilai zakat yang sangat kecil sementara salah satu tujuannya dikelurakannya zakat fitrhah adalah agar para fakir dan miskin dapat ikut merayakan hari raya dan saling berbagi sesama umat islam.
Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitrhah dengan Uang?
Para Ulama Khanafiyah berpendapat bahwa kadar kewajiban membayar zakat fitrah adalah satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari sya’iir. Dan nash menunjukan bahwa zakat fitrhah adalah sebuah nilai bukan jenis. Maka, diperbolehkan membayar zakat fitrhah dengan Dirham, Dinar, atau Uang. Berbeda dengan Ulama Syafi’iyah yang berpendapat sebaliknya.
Dan menurut hemat saya, sah-sah saja jika seorang muslim menunaikan zakat fitrhah dengan uang. Tapi, akan lebih hati-hati dan afdhal jika menunaikannya dengan makanan pokok daerah yang bersangkutan. Seperti apa yang disampaikan Dar al-Ifta Mesir, bahwa kami sepakat diperbolehkannya menunaikan zakat fitrhah dengan uang karena sesuai dengan Maqasidu as-Syari’ah dan kemaslahatan umat. Dan hal ini sependapat dengan madhab Tabi’in.
Waktu Menunaikan  Zakat Fitrhah
Ulama Khanafiyah berpendapat bahwa waktu menunaikan zakat fitrhah adalah saat terbitnya fajar di hari ‘Ied. Kemudian, Ulama Syafi’iyah dan Khanabilah berpendapat bahwa waktu menunaikan zakat fitrhah ialah ketika terbenamnya matahari di ufuk barat (maghrib) pada akhir Ramadhan. Adapun Ulama Malikiyah membolehkan menunaikan zakat fitrhah dua hari sebelum hari raya ‘Ied, hal ini merujuk pada perkataan Ibnu Umar ra. Ia “Mereka (kaum muslimin) menunaikan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya ‘Ied”.
Mungkin dari keterangan di atas akan timbul pertanyaan “Bolehkah menunaikan zakat fitrhah di awal Ramadhan?”.  Jawabannya adalah “Boleh”, seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i.
Wa akhiran, semoga kita termasuk orang-orang yang lalai dari kewajiban kita akan zakat, baik zakat fitrhah ataupun zakat mal. Dan selalu bisa bersyukur dengan segala pemberian Allah swt. kepada kita, baik itu materi maupun non materi, serta bisa merenungi hikmah dari zakat itu. Allahumma taqabbal minna siyamana wa qiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa tadharu’ana wa du’ana amin amin amin yaa Rabbal ‘alamin.
Rujukan:
1. Mahmoud Karimah, Dr. Akhmad., 2011. RamadhaniyahFadhail, Fatawa Mu’ashirah qurbaati syar’iyyah khawatimiyyah.
2. Ibn Ali Hamdan Salma, Dr. Jalal., 2011. Masailu fi Zakat al-Fitr.
3. Dar al-Ifta Mesir. (No. 2852/17/09/2008 Hal Yajuzu Ikhraju Zakatul Fitri Naqdan Badalan min al-Hubub?).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s