Menahan Diri untuk Tidak Mengkafirkan Sesama Muslim

Oleh: Muhammed Syukron at-Toha
إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
” Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah Swt. hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”.
Sebagai seorang muslim sejati, semestinya kalimat syukur selalu membasahi bibir disetiap desahan nafasnya dan mengaplikasikan disetiap liku hidupnya. Yang tercermin dalam bentuk motivasi untuk selalu meningkatkan ibadah kepada-Nya. Menjadikannya teladan diantara orang-orang sekitarnya, dan mengajarkan kepada orang-orang yang buta tentang Islam.  Sepeti halnya Nabi Syu’ib as. yang selalu mensyukuri nikmat Allah swt. dan mengajarkannya pada kaumnya. Selain hal itu, seorang muslim pun harus selalu menjaga diri dan keluarganya dari kekufuran tak terkecuali masyarakatnya. Terlebih, jika ia melihat ada indikasi penyimpangan syariat dan aqidah di dalam agama tanpa mengabaikan pendekatan emosional. Dan tidak tergesa-gesa menghakimi bahwa si fulan adalah kafir.
Pengkafiran terhadap ahlul iman dan atba’ul islam adalah resiko  tinggi, keburukan besar, fitnah, dan mengancam stabilitas keamanan dan perdamaian. Salah satu dari dampak pengkafiran ialah timbulnya kekerasan atau golongan garis keras. Padahal Islam sendiri datang sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.  Agama yang memberikan kabar gembira tentang jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Agama  yang mengajarkan bagaimana menjalin hubungan baik dengan sesama manusia dan hubungan antara Sang Khaliq dan makhluknya. Dan agama yang mengajarkankan bahwa tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Pengertian Takfir
Takfir atau pengkafiran sendiri secara etimologi adalah bentuk dari masdar kufr, yang mempunyai makna at-Taghthiyah dan as-Sitr ( penyelubungan, penyembunyian, atau penutupan). Adapaun secara terminologi Takfir bisa diartikan klaim terhadap seseorang ahlul qiblah (muslim) bahwa dia adalah kafir (bukan orang yang beriman)[1].
Hukum Takfir
Hukum takfir terbagi menjadi dua macam:
Pertama: Haram.
Hal ini berlandasan pada firman Allah swt. surat an-Nisa: 94
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُواْ وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا }.
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” “.
Dan sabda Nabi saw.
“من صلى صلاتنا, واستقبل قبلتنا, وأكل ذبيحتنا فهو مسلم له مالنا وعليه ما علينا”
“Barang siapa yang solatnya seperti solat kita, menghadap kiblat kita, dan makan sebelihan kita maka dia seorang muslim, dia mempunyai hak yang sama terhadap kita begitu juga sebaliknya”.[2]
“من دعا رجلا بالكفر أو قال: عدو الله, وليس كذلك الا حار عليه”
“Barang siapa menyerukan kepada seorang muslim bahwa kamu kafir; atau berucap kepadanya “musuh Allah” maka bukan orang itu melainkan kembali [perkataannya] kepadanya”.[3]
Para Ulama sepakat bahwa  sebaiknya jangan berfatwa tentang kemurtadan seorang muslim ketika dia berkata perkataan atau berbuat perbuatan yang mengarah pada kekufuran[4].  Bagi seorang Mufti dianjurkan untuk lebih condong ke arah larangan pengkafiran karena gawatnya masalah takfir dan sebagai bentuk khusnudzon antar sesama muslim. Seperti yang di jelas dalam al-Qur’an surat al-Hujarat: 12
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ }.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah dari kebanyakan berburuk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa“.
Diantara Ulama yang mengatakan demikian ialah:
  1. Ulama Hanafi: Ibnu Najim al-Masry berkata, “Perkara yang wajib kita jaga adalah tidak berfatwa tentang kekafiran seorang muslim selagi masih ada indikasi kebaikan dalam perktaannya. Atau masih adanya khilaf (simpang siur) tentang kekufurannya walaupun riwayat itu lemah”.[5]
  2. Ulama Maliki: al-Qarrafy berkata, “Tidak sembarangan melakukan hukuman mati apalagi mengkafirkan seorang muslim”.[6]
  3. Ulama Syafi’i: as-Syarbini berkata, “Menghukumi murtad adalah perkara besar maka berhati-hatilah”.[7]
  4. Ulama Hambali: Ibn Taimiyyah berkata, “Tidak boleh menghukumi kafir pada seorang muslim hanya karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, karena dalam masalah ini seperti masalah yang diperdebatkan ahlul qiblah“.[8]
Kedua: Wajib.
Takfir menjadi wajib, ketika seorang muslim sudah mukalaf (berkewajiban) melaksanakan syariat agama sedangkan ia menentangnya seperti melarang mengeluarkan mengeluarkan zakat. Seperti yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu bakar as-Siddiq ra., atau seorang muslim menyatakan memeluk agama selain Islam dan lain sebagainya.  
Beberapa hal yang mendorongan untuk berbuat Takfir, diantaranya:
  • Ta’asub madzhabi (fanatisme golongan).
  • Dangkalnya pemahaman tentang agama atau sedikitnya orang yang paham tentang agama.
  • Pemaksaan yang bersifat politik.
  • Penafsiran yang keliru terhadap nash.
  • Taklid buta, dll.
Dari penjabaran diatas, dapat dimpulkan bahwa dalam bermuamalah seyogyanya kita sebagai seorang muslim harus ekstra hati dalam menyikapi pelbagai hal problematika yang ada, khususnya dalam hal takfir. Islam mengajarkan kita untuk tidak terburu dalam hal menghukumi seseorang hanya dengan sedikit bukti, terlebih dalam masalah hukuman mati. Akan lebih bijak jika menunda atau bahkan melepaskannya jika terdakwa melakukan sumpah atas nama Allah bahwa dia tidak bersalah. Islam juga mengajarkan kepada kita untuk selalu khusnudzon kepada semua orang khususnya sesama muslim. Karena kita hanya tahu yang dzohir saja dan tak tahu apa yang ada di dalam hati masing-masing. Wa ‘ala kulli khal, semoga kita termasuk golongan yang selamat, meninggal dunia dalam keadaan iman dan islam, dan berkumpul bersama orang-orang saleh, syuhada, anbiya, dan rusul. Dan semoga kita bisa menghidari dari bahaya fitnah takfir sesama muslim yang akhir-akhir ini marak di pelbagai penjuru negeri islam. Sekiranya cukup sekian penjelasan dari penulis tentang sekelumit tentang hukum takfir, banyak kekurangan di sana-sini (itu dari pribadiku sendiri) mohon maaf dan mohon koreksi atau tambahannya.
Wallahu a’lam bisshawab.

[1]  Mahmud karimah, Prof. Dr. Akhmad, 2011, Khurmatu at-Takfir.
[2] Fatkhu al-Barry 1/496.
[3] Shahih Muslim 1/80.
[4] Abbas, Dr. Inas, al-Jinayah. ( yang dimuat di Majalatu as-Syar’iyyah wa al-Bukhus al-Islamiyah Kuwait).
[5] Bahru ar-Raiq 5/125 dan Rad al-Muhtar 4/124.
[6] Adz-dzakhirah lil Qarrafy 12/37.
[7] Mughni al-Mukhtaj 4/138.
[8] Ibid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s