‘Idul Fitri dan Keutamaan Puasa di Bulan Syawal

Oleh: Muhammad Syukron at-Toha

وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

” Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (al-Baqarah: 185).

Tak terasa detik-detik menyatu menjadi menit, segumpalan menit menjadi jam, dan sekumpulan jam menajdi suatu massa yang bernama hari. Itulah massa, yang selalu menerjang penggunanya juka ia tak ada usaha menggunakannya semaksimal mungkin. Kini, hari-hari itu telah pergi. Yang tersisa hanya hari-hari yang menghadang di esok hari. Inilah kehidupan, yang selalu terasa begitu cepat meninggalkan kita. Ramadhan-ramadhan telah kita lalui, begitu juga ‘Idul Fitri-‘Idul Fitri. Termasuk ramadhan kali ini, begitu cepat beranjak meninggal kita. Dan kita dihadapkan lagi dengan hari yang orang katakan “Hari Kemenangan”, tapi entah kemenangan apa yang mereka artikan. Semua kembali kepada penafsiran mereka sendiri.
Terkadang perasaan prihatin menyelimuti hati penulis ketika melihat realitas ”Idul Fitri akhir-akhir ini. Banyak sekali yang mengartikan hari kemenangan/kebebasan dari jeratan kewajiban berpuasa (makan dan minum). Bahkan yang paling menyedihkan lagi orang mengira Hari Raya ”Idul Fitri ialah hari untuk berfoya-foya, seperti halnya membeli baju baru dan tamasya ke tempat mereka idam-idamkan. Padahal, jika kita pahami betul makna ”Idul Fitri sangat jauh dari apa yang mereka kira.
Arti ‘Idul Fitri (Etimologi dan Terminologi)
”Idul Fitri sendiri secara etimologi terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya ‘Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya.[1]
Dalam al-Qur’an diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa as. tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (Hari Raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa as. agar Allah swt. menurunkan hidangan mewah dari langit. Seperti termaktub dalam surat al-Maidah: 112-114
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاء قَالَ اتَّقُواْ اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِين * قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ * قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاء تَكُونُ لَنَا عِيداً لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 
َ 
“(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”. Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu. Isa putera Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi Hari Raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama”. 
Mungkin sejak masa itulah budaya Hari Raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan Allah swt. pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan. Surat al-Maidah: 115.
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ 
“Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia”. 
Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya ‘Idul Fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam Hari Raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan, tidak melanggar larangan agama, dan mengesampingkan arti ”Idul Fitri sesungguhnya.
Kemudian terminologi dalam Islam, ‘Idul Fitri secara sederhana adalah Hari Raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan berbuka atau berhenti puasa, yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila ‘Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga. Terminologi seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna ‘Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. ‘Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan. ‘Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna ‘Idul Fitri yang asli. Adalah kesalahan besar apabila ‘Idul Fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya ‘Idul Fitri akan balas dendam., atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan.
Hukum ‘Idul Fitri
Para ulama Fiqih dan semua orang Islam sedunia sepakat bahwa shalat ‘Id secara umum atau ‘Idul Fitri secara khusus sangat dianjurkan oleh syari’at Islam. Namun, para Ulama Fiqih berbeda pendapat tentang hukum shalat ‘Id itu sendiri.
  1. Sunah Muakad, karena Rasulullah saw. menganjurkan melaksanakannya secara terus-menerus. Pendapat ini adalah pendapat madzhab Iman Syafi’I dan Imam Maliki. Dan pendapat ini adalah pendapat paling rajih (utama) di kalangan Umat Islam.
  2. Wajib,  karena Rasulullah saw. menganjurkan melaksanakannya dan beliau tak pernah meninggalkannya walau hanya sekali. Jika shalat ‘Id adalah Sunah, tentu ada pengecualian dalam syari’at. Pendapat ini adalah pendapat Madzhab Imam Hambali.
  3. Fardu Kifayah, seperti yang termaktub dalam surat al-Kautsar ayat 2                  { فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} dan Rasulullah saw. selalu melaksanakannya[2].
Hal-hal yang Disunahkan di Hari Raya ‘Idul Fitri
*     Makan sebelum melaksanakan shalat ‘Idul Fitri.
*     Menuju ke masjid atau tempat shalat ‘Idul Fitri dengan berjalan kaki dan ketika pulang ke rumah melewati jalan yang        berbeda.
*     Bertakbir ketika di perjalanan menuju masjid atau tempat shalat ‘Idul Fitri sampai dilaksanakannya shalat ‘Id.
*     Berhias sebelum shalat ‘Id (mandi, menggunakan minyak wangi, berpakaian rapi, bersiwak, dll).
*     Saling mengucapkan selamat seperti “Yataqabballahu minna waminkum“.
*     Bersilaturahmi antar sesama.
Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal
Rasulullah saw. bersabda:
“من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر” رواه مسلم فى صحيحه 2/822.
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR Muslim).
Dari dalil diatas, dapat kita simpulkan bahwa puasa Ramadhan (pausa satu bulan penuh) sepadan dengan puasa sepuluh bulan. Dan puasa enam hari di bulan Syawal (selain hari ‘Id) sepadan dengan puasa enam puluh hari atau dua bulan. Maka, ketika orang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutnya enam hari di bulan Syawal ia akan memperoleh pahala seperti pahala puasa satu tahun. Kenapa demikian?, karena ketika orang melakukan satu kebaikan Allah swt. akan memberikan sepuluh kebaikan kepadanya. Hal ini jelas sekali dalam firman Allah swt. dalam surat al-An’am ayat 160:
{مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا}
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”.
Dan cara melakukan puasa Syawal ini tidak harus beruntut setelah tanggal satu Syawal (tapi, yang lebih utama seperti itu). Bisa juga melakukannya secara acak selama masih dalam bulan Syawal melihat firman Allah swt. dalam surat at-Taghabun ayat 18
{ فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ }
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (kemampuanmu)”.
Puasa Sunah di Bulan Syawal sedangkan Ia Harus Melunasi Puasa Ramdhan?
Mungkin hal ini banyak terpikirkan oleh kaum Hawa dan sedikit dari kaum Adam. Bahwa bagaimana jika saya mempunya hutang puasa Ramadhan sedangkan saya ingin melaksanakan puasa sunah di bulan Syawal?. Adapula yang bertanya “Bolehkan saya puasa di bulan Syawal dengan dua niat; niat puasa meng-qadha bulan Ramadhan dengan puasa sunah Syawal?”.
Orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan dikarenakan ada ‘udzur (halangan), maka lebih diutamakan membayar atau menlunasi puasa Ramadhan yang ditinggalkannya kemudian berpuasa Syawal. Para Ulama Fiqih berpendapat bahwa makruh hukumnya bagi orang yang mendahulukan puasa sunah dari pada puasa wajib (dalam hal ini puasa Syawal dan puasa qadha Ramadhan). Adapun orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan (halangan) maka wajib hukumnya meng-qadha-nya.[3] Dan barang siapa tidak puasa di bulan Ramadhan sepenuhnya karena ada ‘udzur(halangan), maka secepatnya melunasinya sebulan penuh di bulan Syawal kemudian melanjutkannya puasa enam hari di bulan Dzulqa’dah[4].
Syeikh al-‘Alamah Muhammad ar-Ramly al-Anshary ditanya oleh seseorang tentang puasa qadhaRamadhan dan pausa Syawal dengan satu niat. Kemudian beliau menjawab, “Ia telah melunasi puasa Ramadhan yang ditinggalkannya dan mendapatkan pahala puasa Syawal walau dengan niat qadhapuasa Ramadan atau sebaliknya”.[5]
Demikianlah sedikit uraian tentang ‘Idul Fitri dan keutamaan puasa di bulan Syawal. Semoga kita tergolong orang-orang yang diterima segala ibadahnya di sisi Allah swt. khususnya puasa Ramadhan. Dan mampu meraih kemenangan fitri hakiki di hari yang fitri. Amin, amin, amin yaa Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bisshawab.
[1] Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab.
[2] Mahmoud Karimah, Dr. Akhmad., 2011. RamadhaniyahFadhail, Fatawa Mu’ashirah qurbaati syar’iyyah khawatimiyyah.
[3] Tukhfatu al-Mukhtaj fi Syarkhi al-Minhaj 3/457.
[4] Daru al-Ifta al-Masriyah, Kitabu as-Shiyam 55.
[5] Fatawa ar-Ramly 2/66.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s