Kenapa Harus Al-Azhar?

Oleh: Dr. Mohammad Abdul Fadil Al-Qushi*

Hanya perasaan gembira yang dapat dirasakan oleh seseorang ketika ia melihat pembesar-pembesar aliran yang sedang bergejolak di masyarakat Mesir-mulai dari Ikhwan al-Muslimin, Salafi, dan kelompok jihad dll— kembali pada lingkungan Al-Azhar. Mereka mencari metode yang benar dan memetik manfaatnya. Ini merupakan cita-cita mulia dan tujuan utama. Dan semua itu, merupakan karakteristik yang dapat mewujudkan Islam yang benar dan diridlai Allah, baik secara syariat dan metodis.

Dapat dirasakan juga, langkah ini mencerminkan titik awal yang positif untuk kebangkitan kelompok-kelompok tersebut, bahwa metode Azhari adalah satu-satunya metode yang dapat membersihkan wajah Islam dari kotoran-kotoran fanatisme, kekejaman, ekstremisme dsb. Serta kembali pada motif dasar: sebagai agama toleran, mudah tidak lemah, kuat, kokoh tidak keras.

Namun, semua ini tidak bisa mengalihkan perhatian kita dari kenyataan terbesar, bahwa Al-Azhar yang sedang merayakan kegembirannya [karena melihat semua aliran sudah kembali ke lingkungan semula] ingin memastikan diri bahwa ia bisa dijadikan cerminan oleh semua umat manusia. Dengan metode pemikirannya yang sistematis, ia menjadi sosok teladan seutuhnya bagi Islam dan Muslimin. Maka untuk memelihara kemurnian metode ini, Al-Azhar berupaya memelihara identitas dirinya dari kecondongan terhadap arah atau aliran tertentu. Dengan kata lain, ia berusaha netral: boleh sepakat dengannya, boleh tidak.

Poin pertama: dengan begitu, metode Azhari akan terus menjadi pegangan karena berhasil menggabungkan wawasan berpikir (logika) dan syariat. Sehingga, pikiran ini sesuai dengan akidah Asy’ari-Azhari. Ini merupakan langkah yang tepat untuk ratifikasi fakta fundamental dalam Islam, baik secara teologi, hukum, dan metodologi. Oleh karena itu, metode ini terus berkometmen untuk menyelaraskan antara undang-undang dan tujuannya. Sehingga menjadikan aktifitas kehidupan orang Islam berjalan dan beputar antara ibadah dan memahami makna yang terkandung didalamnya. Ketika metode seperti ini tak ditemukan dalam aliran-aliran yang telah disebut di atas, maka peran akal akan layu, dan arti kehidupan yang terpendam di balik ibadah menjadi pupus. Kemudian menjadikan penyimpangan, kejumudan, kekerasan, dan suara-suara jeritan mengetuk pintu masyarakat dengan kejam dan anarkis. Jika seseorang terjerumus ke kedalaman fenomena kelam ini, maka dapat dipastikan bahwa penyakit ini terletak pada permusuhan mendalam terhadap fungsi akal dalam memahai teks-teks syariat, sehingga sampai pada maksud yang mulia dan tujuan yang istimewa.

Poin kedua, bahwa metode Azhari akan terus berpegang teguh terhadap perbedaan yang esensial antara iman dan kekufuran. Maka, dengan akidah Asy’ariahnya ia tidak bisa dengan mudah melayangkan tuduhan kepada seseorang dengan kesyirikan, kekufuran atau keluar dari agama. Sementara, ada sebagian aliran yang diikuti oleh masyarakat dengan dalih berafiliasi pada ulama salaf namun [sebenarnya] terobsesi oleh ide dan pemikiran gurun (pendatang), yang terlalu berani untuk menuduh dan bertindak keji atau kerapkali mengeluarkan ucapan kotor dengan menuduh pihak lain sebagai: bid’ah, fasik, kafir, dan syirik bahkan mungkin menumpahkan darah atau melanggar privasi orang lain.

Poin ketiga, metode ini akan terus berpegang teguh bahwa cabang-cabang fikih, baik dalam masalah ibadah, muamalat dan etika: merupakan cabang yang masih diperdebatkan karena keragaman visi dan interpretasi. Namun, pupusnya metode Azhari dari sebagian aliran akan menyebabkan mimbar-mimbar kaum Muslimin, tempat diskusi ilmiah, masjid-masjid, dan chanel-chanel tv-nya akan berkobar dengan teriakan-teriakan fanatisme dan menganggap kelompok lain berdosa dan fasik. Bahkan kadang ada ajakan berjihad hanya karena perbedaan tentang sunnah atau simbol-simbol keagamaan [yang tak esensial].

Poin keempat, seorang Azhari akan komitmen untuk tidak terjun langsung dalam ranah politik yang sedang bergejolak atas nama Al-Azahar. Karena aspirasi Al-Azhar tak mungkin terpenuhi [di sana], seorang Azhari harus terus berjuang pada jalan dan fungsinya sebagai represanti sosok-sosok yang melestarikan ilmu-ilmu syariat dan turast (tradisi) yang mengakar. Kemudian menyebarkan semangat beragama dalam masyarakat Muslim dengan pendidikan dan etika. Alangkah baiknya, bila perannya dalam ranah politik hanya fokus mengoreksi dan mengarahkan dengan bijaksana atau memperingatkan dengan baik, bukan terlibat dalam arus politik yang tikungannya berliku-liku, arungan sungainya berombak, dengan sudut pandang yang beraneka ragam, dan konflik kepentingan.

Poin kelima, seorang Azhari terus berpegang teguh terhadap visi-visinya yang luas untuk Islam terhadap semua elemen Islam yang memilik keragaman, kekayaan, dan budayanya yang bermacam-macam. Sehingga, Al-Azhar—dari anak-anaknya— bisa memetik buah yang beraneka ragam warnanya. Mulai dari ahli fikih, ahli hadis, ahli mantiq, ahli kalam, penyair, sastrawan, sufi, dan filsuf. Tanpa menolak salah satu buah itu, atau mengeringkannya. Kemudian menghukuminya dengan bid’ah, fasik, kufur, syirik, keluar dari agama dan atau lepas dari agama. Bahkan, Al-Azhar akan terus berpegang teguh bahwa peradaban Islam yang terus berkembang dan budayanya yang kreatif telah berperan besar dalam menjunjung tinggi nama Islam dan menyebarkannya ke penjuru dunia.

Poin terakhir, Al-Azhar terus berpegang teguh terhadap apa yang telah disebarkan Islam ke dalam hati manusia. Mulai dari semangat optimisme, toleran, kemudahan, berusaha hidup bersih-suci, dan menghindari intoleransi, ekstremisme, dan kekerasan dalam berkomunikasi dan berintraksi. Dan terus berpegang teguh terhadap firman Allah SWT. “Allah menginginkan kemudahan bagimu dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagimu” dan sabda Rasulullah SAW. “Tidaklah aku disuruh memilih di antara dua parkara kecuali aku memilih yang paling mudah, selama itu tidak dosa.”

[Penerjemah: Muhsin Muiz]

*Presiden WAAG (World Asociation Al-Azhar Graduate) sekaligus Menteri agama Mesir saat ini.

Dikutip dari http://fosgamamesir.com/index.php/oase/kolom/122-kenapa-harus-al-azhar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s