Benarkah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad Saw Masuk neraka?

Oleh: Muhammad Syukron at-Toha

Akhir-akhir ini muncul isu tentang “Kedua orang tua Nabi Muhammad Saw. termasuk golongan kafir” atau secara kasar bahasanya bahwa kedua orang tua Nabi Saw. termasuk ahli neraka. Isu ini diusung oleh golongan yang menamakan dirinya “Wahabi” atau dalam istilah sekarang adalah “Salafy[1]”. Dan isu ini sangat meresahkan dan fitnah umat islam pada umumnya dan umat islam Indonesia pada khususnya yang notabennya keseluruhan penganut islam sunny. Sebenarnya masalah Takfirul waliday al-Musthafa bukanlah barang baru dimasa kita ini, sebelumnya ketika masa Imam Suyuti sudah ada dan beliau telah membahasnya dalam kitabnya yang berjudul “Ta’dzim wal Minnah fi Abaway an-Nabi fil Jannah”, “Ad-Darjul Manfiyah fil Aba as-Syarifah”, “Assubulul Jaliyyah fil Abaul ‘Aliyyah”, “Al- Maqamat as-sundusiyyah fil Aba as-Syarifah”, “Masalikul Khunafa fi Waliday al-Musthafa”, dan “Nasyrul ‘Ilmiyyin al-Manfiyyin fi Ihyaul Abawain as-Syarifain”, dan masih banyak lagi kitab-kitab penolakan isu yang digaung-gaungkan oleh golongan Wahabi atau Salafy. Melihat fenomena ini penulis merasa prihatin dan merasa tergugah untuk meluruskannya, setidaknya dengan menyambungkan dakwahnya Syeikh ‘Ali Jum’ah[2] yang sedang gencar-gencarnya memerangi mereka (Wahabi/Salafy-red) dalam bukunya yang berjudul “Al-Mutasyaddidun; Manhajuhum wa Munaqasatu Ahamu Qadayahum”.
Memahami apa yang diisukan oleh golongan Salafy tentang kedua orang tua Nabi masuk neraka di hari kiamat nanti menimbulkan tanda tanya besar kepada mereka yang mengajak kembali ke jalur ajaran Salafuna as-Shalih dan kecintaan mereka terhadap Nabi. Bagaimana tidak?, para Salafuna as-Shalih tidak pernah yang mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi masuk neraka sampai Imam Ibnu Taimiyyah yang notabennya rujukan mereka. Dan keraguan cinta mereka terhadap Nabi yang dibarengi dengan menyakiti Nabi melalui isu mereka tentang kedua orang tua Nabi yang dihukumi masuk neraka di hari kiamat nanti. Sedangkan Allah Swt. melarang kita menyakiti Rasulnya sebagaimana yang dilakukan Yahudi menyakiti Nabi Musa as. sebagaimana firman-Nya dalam Surat at-Taubah: 61 “Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih”, dalam Surat al-Ahzab: 57 “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan mela’natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan”, dan dalam Surat al-Ahzab: 69 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah”. Ketahuilah bahwa kedua orang tua Nabi dan nenek moyangnya hingga Nabi Isma’il as. sebagian pada masa-masa kemusyrikan (jahiliyyah) tapi mereka tidak musyrik. Seperti keyakinan Ahlu sunnah wal jama’ah bahwa seorang yang musyrik pada masa peralihan syari’at tauhid antara Nabi satu dengan Nabi yang akan datang tidaklah disiksa. Hal ini tersirat dalam Surat al-Israa: 15 “Dan Kami tidak akan mengazab/menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul”, dalam Surat al-An’am: 131 “ Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah[3]”, dalam Surat as-Su’araa: 208 “Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan”, dan dalam Surat an-Nisa: 165 “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Ada salah seorang berkata “Kemungkinan ada rasul yang diutus atas mereka (kedua orang tua dan nenek moyang Nabi-red) dan sebagai peringatan dari Allah Swt. dan mereka menyekutukan-Nya” hal ini tidak bisa dibenarkan, Allah Swt. berfirman dalam Surat Saba’: 44 “Dan Kami tidak pernah memberikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka baca dan sekali-kali tidak pernah (pula) mengutus kepada mereka sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun”, dalam Surat al-Qashash: 46 “Supaya kamu memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang sekali-kali belum datang kepada mereka pemberi peringatan sebelum kamu agar mereka ingat”, dan dalam Surat al-Qashash: 59 “Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa orang tua dan nenek moyang Nabi tidak disiksa bukan karena mereka adalah orang tuan dan nenek moyang Nabi melainkan mereka adalah bagian dari ahlul fatrah[4] yang kita tahu siapa mereka dan hukum mereka (tidak disiksa). Imam Ibnu Taimiyyah berkata “Sesungguhnya al-Qur’an dan as-Sunnah menjelaskan bahwa Allah Swt. tidak menyiksa seseorang kecuali setelah diutusnya rasul. Barang siapa yang tidak mendapati dakwah rasul secara umum maka tidak disiksa. Barang siapa yang sampai dakwah rasul secara umum tanpa terperinci maka tidak disiksa kecuali apa yang ia ingkari dari apa yang telah ia dapati”[5].
Adapaun dalil yang menguatkan bahwa kedua orang tua Nabi tidak disksa dan masuk surga karena kekhususannya yaitu firman Allah Swt. dalam Surat as-Su’araa: 219 “وتقلبك فى الساجدين”, dari Ibnu ‘Abbas ra. menafsiri ayat ini dengan berkata “Mereka adalah keturunan Nabi Adam as., Nabi Nuh as., dan Nabi Ibrahim as. sampai keluarnya nabi berikutnya[6]. Hadits Nabi riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim dari wastilah bin Asqa’ Nabi bersabda “Sesungguhnya Allah Swt. telah memilih anak Nabi Ibrahim as. yaitu Nabi Isma’il as., memilih anak Nabi Ismail as. Bani Kinanah, memilih dari Bani Kinanah Quraisy, memilih dari quraisy Bani Hasyim, dan memilihku dari Bani Hasyim[7]”, dan Hadits Nabi riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari paman Nabi (al-‘Abbas) Nabi bersabda “sesungguhnya Allah Swt. telah menciptakan makhluk dan menjadikanku terbaik dari mereka, menjadikan masaku terbaik dari masa mereka, kemudian Allah Swt. Memilih dan menjadikanku kaum terbaik diantara beberapa kaum, kemudian Allah Swt. memilih dan menjadikan rumahku menjadi rumah terbaik diantara rumah-rumah mereka, aku adalah yang terbaik diantara mereka dan yang terbaik rumahnya diantara mereka[8]”. Dua hadits ini jelas sekali bahwa Nabi Saw. menyifati nenek moyangnya dengan kesucian dan kebaikan, kedua sifat ini jauh dan tidak ada pada kekufuran dan kemusyrikan, Allah Swt. berfirman dalam Surat at-Taubah: 28 “Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis[9]”.
Adapun dalil yang dipakai oleh mereka (Wahaby/Salafy-red) Hadits riwayat Imam Muslim yaitu hadits pertama: Sesungguhnya Nabi telah bersabda “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk mminta ampunan untuk dia tetapi Tuhan tidak mengizinkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Tuhanku mengizinkannya[10]”, dan hadits kedua: Berkata seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw. : “Dimana tempat bapa saya?”, Jawab Nabi Saw. “Di dalam neraka!”. Setelah orang itu berbalik, Rasulullah Saw. memanggilnya lagi seraya berkata : “Sesungguhnya bapaku dan bapamu di dalam api neraka[11]”.
Untuk menjawab/menolak apa yang mereka (Wahaby/Salafy-red) pahami dari dua hadits riwayat Imam Muslim ini, pertama: hadits pertama tidak ada penjelasan tentang ibu Nabi Saw. masuk neraka dan tidak adanya izin Allah Swt. untuk memintakan ampun untuknya bukan berarti ibunya menyekutukan Allah Swt., jika ibunya menyekutukan Allah Swt. tentunya Nabi Saw. dilarang menziarahi makam ibunya. Kedua: hadits kedua yang dimaksud “أبى” bukanlah bapaknya ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthalib melainkan pamannya Abu Thalib yang meninggal dunia setelah kenabiannya dan tidak menyatakan keislamannya. Kenapa demikian?, orang arab biasa menisbatkan pamannya dengan sebutan al-Ab ((الأب seperti dalam firman Allah Swt. dari perkataan Nabi Ibrahim as. dalam Surat al-An’am: 74
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Kalimat liabihi (لِأَبِيهِ) bermakna pamannya[12] yang bernama Azar, karena bapaknya Nabi Ibrahim as. adalah Tarih atau Tarikh seperti yang disebutkan oleh Ibnu Kastir dalam kitabnya “Tafsirul Quran al-‘Adzim”.
Kalaupun mereka (Wahaby/Salafy-red) menolak penafsiran/pentakwilan ini (tentunya) dan berpegangan pada dhahir nash pada hadits kedua tanpa menelaah dhahir nash hadits pertama serta menjadikan kedua hadits tersebut dalil masuknya kedua orang tua Nabi Saw. Masuk neraka, maka kami (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) menjadikan kedua hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah Swt. diatas, dan ini adalah madzhab para imam dan ulama dari masa ke masa. Al Khafidz al-Khatib al-Ba’dady berkata “Ditolak suatu hadits yang perawai haditsnya tsiqah (terpercaya), makmun khabran (khaditsnya otentik), sanadnya muttasil (tidak putus) ketika hadits bertentangan dengan nash al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah al-Mutawatirah. Ketahuilah bahwa hadist itu tidak ada asalnya atau di mansukh (direplikasi)[13]. Sebagai contohnya Imam Bukhari dan Imam al-Madiny menolak hadits yang menyebutkan “Allah Swt. menciptakan debu/bumi pada hari sabtu,menciptkan gunung-gunung pada hari ahad/minggu, menciptakan pepohonan pada hari senin, menciptakan perkara makruh pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menyebarluaskan hewan-hewan di bumi pada hari kamis, menciptakan Nabi Adam as. setelah ashar pada detik-detik akhir hari jumat (antara ashar dan malam)[14]”. Imam Bukhari dan Imam Madiny menolak hadits ini karena bertentangan dengan ayat al-Quran dalam Surat al-A’raf: 54 “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari”.
‘Ala kulli khal, bahwa kedua orang tuan Nabi Muhammad Saw. termasuk orang-orang yang najah dan masuk surge dan berkumpul dengan nenek moyang Nabi Saw. Allahummarzuqna mahabatih wahubbih wa ma’rifati qadrih wa akhiru da’wana wal hamdulillahi rabil ‘alamin, wallahu ta’ala wa a’lam.

[1] Golongan jelmaan wahabi; yang menisbatkan dirinya kembali pada ajaran para Salafuna shalih mulai zaman sahabat sampai zaman para Aimmatul fiqhiyyah.
[2] Mufti Republik Mesir Arab.
[3] Maksudnya: penduduk sesuatu kota tidak akan diazab, sebelum diutus rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka.
[4] Golongan pada masa belum adanya rasul.
[5] Majmu’ul fatawa libni Taymiyyah Jilid 13 Hal. 493.
[6] Tafsir Qurthubi Jilid 13 Hal. 144, dan Tafsir at-Thabari Jilid 7 Hal. 287.
[7] Lihat Musnah Imam Ahmad Jilid 4 Hal. 107, dan Shahih Muslim Jilid 4 Hal. 1782.
[8] Lihat Musnad Imam Ahmad Jilid 4 Hal. 165, dan Sunan Tirmidzi Jilid 5 Hal. 584.
[9] Yaitu jiwa orang musyrikin itu dianggap kotor karena mempersekutukan Allah Swt.
[10] Lihat Shahih Muslim Jilid 2 Hal. 671.
[11] Lihat Shahih Muslim Jilid 1 Hal. 191.
[12] Menurut sebagian ahli tafsir.
[13] Al-Faqih wal Mutafaqih lil Ba’dady Hal. 132.

[14] H.R Imam Muslim Jilid 4 Hal. 2149.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s